Hari Kesaktian Pancasila, Andi Utta Ingatkan Warga Bahaya Komunis

Rubrik Redaksi

RUBRIK.co.id, BULUKUMBA – Hari Kesaktian Pancasila setiap tahunnya diperingati pada tanggal 1 Oktober.

Tanggal tersebut mengingatkan memori kolektif Bangsa Indonesia, akan salah satu momen penting untuk melepaskan negara dari pemberontakan G30S/PKI.

Karena dalam pemberontakan G30S/PKI ini, banyak menewaskan Jenderal Revolusi terbaik di negeri ini.

Bagi Pasangan Bupati dan Wakil Bupati Bulukumba Nomor 4, Muchtar Ali Yusuf dan Andi Edy Manaf, peringatan Hari Kesaktian Pancasila adalah momentum kebangkitan bagi anak bangsa, untuk kembali membangun asa dan membangun Harapan Baru.

Bahwa hari esok akan lebih baik dari hari ini, jika semua anak bangsa dapat menunjukkan darmabakti dan karya terbaiknya dengan banyak bekerja dan bekerja bukan hanya dicerita.

Selain itu, pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati yang mengusung tagline “Harapan Baru, Dikerja Bukan Dicerita” ini menganggap Hari Kesaktian Pancasila menjadi wadah untuk kembali meningkatkan rasa nasionalisme dan patriotisme.

Karena selama ini hal tersebut cenderung memudar akibat pengaruh globalisasi yang banyak mengikis nilai-nilai kearifan bangsa.

Olehnya Itu, Calon Bupati Nomor 4 Muchtar Ali Yusuf yang akrab disapa Andi Utta, mengajak warga Bulukumba untuk selalu menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan keseharian warga.

“Jangan biarkan benih-benih komunisme hidup kembali dan jangan berikan ruang ideologi konunis ada di Bumi Panrita Lopi, sebab kita trauma dengan sejarah kelam masa lalu, dimana PKI banyak membantai para jenderal terbaik bangsa, bahkan banyak ulama besar yang menjadi korban kebiadaban PKI”, tegas Andi Utta.

Andi Utta juga mengajak warga Bulukumba, untuk menjadikan momen hari Kesaktian Pancasila dan moment Pilkada di bulan Desember yang akan datang menjadi wadah yang tepat untuk membumihanguskan paham-paham ideologi Komunis di Kabupaten Bulukumba.

“Saatnya untuk membangun dan mensejahterakan warga Bulukumba dengan tetap menanamkan nilai pancasila sebagai dasar pembangunan, tanpa ada benih-benih komunis di Bumi Panrita Lopi,” pungkasnya (**)