Profil Reza Pahlavi, Tokoh Oposisi Iran Pendukung Hubungan dengan Israel

Azka Fachri
Reza Pahlavi. Foto ist
Reza Pahlavi. Foto ist

Rubril.co.id – Reza Pahlavi merupakan tokoh oposisi Iran yang selama puluhan tahun hidup di pengasingan dan dikenal sebagai penentang utama pemerintahan Republik Islam Iran.

Ia adalah Pangeran Mahkota terakhir Iran sekaligus kepala Dinasti Pahlavi, dinasti yang berkuasa sebelum Revolusi Iran 1979.

Reza Pahlavi lahir di Teheran, Iran, pada 31 Oktober 1960. Ia merupakan putra sulung dari Shah Mohammad Reza Pahlavi, penguasa terakhir Iran, dan Shahbanu Farah Pahlavi.

Reza secara resmi dinobatkan sebagai Pangeran Mahkota pada 1967, bertepatan dengan penobatan ayahnya sebagai Shah Iran.

Pada 1978, saat berusia 17 tahun, Reza Pahlavi meninggalkan Iran untuk mengikuti pelatihan sebagai pilot jet tempur di Angkatan Udara Amerika Serikat di Reese Air Force Base, Texas.

Kepergiannya terjadi di tengah meningkatnya gejolak politik di Iran yang berujung pada Revolusi Iran 1979.

Revolusi tersebut menggulingkan monarki dan melahirkan pemerintahan teokratis Islam, yang kemudian melarang Reza Pahlavi kembali ke tanah kelahirannya.

Setelah menyelesaikan pelatihan militernya, Reza Pahlavi melanjutkan pendidikan tinggi dan meraih gelar sarjana ilmu politik dari University of Southern California.

Meski memiliki latar belakang sebagai pilot tempur, ia pernah mengajukan diri untuk membela Iran dalam Perang Iran-Irak pada 1980-an, namun tawaran tersebut ditolak oleh pemerintahan ulama yang berkuasa.

Sejak hidup di pengasingan, Reza Pahlavi aktif membangun peran sebagai figur oposisi.

Selama lebih dari empat dekade, ia secara konsisten menyuarakan penolakan terhadap pemerintahan Republik Islam Iran, yang menurutnya telah melakukan penindasan sistematis terhadap rakyat Iran.

Ia mendorong terbentuknya sistem demokrasi sekuler, penegakan hak asasi manusia, serta perubahan rezim melalui aksi sipil non-kekerasan dan referendum bebas bagi rakyat Iran.

Dalam aktivitas internasionalnya, Reza Pahlavi rutin melakukan pertemuan dengan kepala negara, anggota parlemen, pembuat kebijakan, akademisi, dan kelompok masyarakat sipil di berbagai negara.

Ia juga dikenal terbuka mendukung normalisasi hubungan Iran dengan Israel, sikap yang membuatnya kerap disebut sebagai oposisi Iran yang pro-Israel.

Pandangan tersebut bertolak belakang dengan kebijakan resmi Republik Islam Iran yang selama ini bersikap keras terhadap Israel.

Aktif Menulis Buku

Selain aktif berpidato dan menulis artikel, Reza Pahlavi juga menulis sejumlah buku yang membahas kondisi politik Iran dan masa depan negaranya, di antaranya Gozashteh va Ayandeh (2000), Winds of Change: The Future of Democracy in Iran (2002), dan IRAN: L’Heure du Choix (2009).

Dalam kehidupan pribadi, Reza Pahlavi menikah dengan Yasmine Etemad-Amini pada 12 Juni 1986. Pasangan ini dikaruniai tiga putri, yakni Noor Pahlavi, Iman Pahlavi, dan Farah Pahlavi.

Reza Pahlavi secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap kesetaraan gender dan menegaskan bahwa ketiga putrinya merupakan penerus sah garis dinasti Pahlavi.

Yasmine Pahlavi sendiri dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan advokasi demokrasi.

Ia merupakan lulusan ilmu politik dan hukum dari George Washington University serta pernah lama berkiprah sebagai pengacara hak anak di Amerika Serikat.

Hingga kini, keluarga Pahlavi tetap menjadi simbol oposisi monarki di pengasingan yang terus menyerukan perubahan politik di Iran. ***