Menelisik Kearifan Lokal Suku Bugis di Bulukumba, Lewat Tradisi “Mappalecce Bola”

Rubrik Redaksi

 

Saat seseorang akan pindah rumah, biasaya mereka akan disibukkan dengan mengemasi barang mereka untuk memindahkannya ke rumah yang baru dari rumah lama. Tapi kegiatan itu tidak berlaku bagi masyarakat suku Bugis di Bulukumba Sulawesi Selatan

Budaya gotong royong di tengah masyarakat Desa Pangalloang Kecamatan Rilau Ale masih hidup dan mengakar sampai sekarang. Seperti yang terlihat saat proses pindah rumah (Mappalecce bola) rumah panggung (Bola Aku) di desa tersebut Jumat 14 Februari 2020.

Oleh masyarakat setempat kegiatan Mappalecce bola ini dilakukan secara beramai-ramai oleh masyarakat setempat.

Bahkan kegiatan gotong royong memindahkan rumah ini juga turut dibantu oleh anggota TNI dari Kodim 1411 Bulukumba melalui Babinsa Sertu Sukirman.

Di Sulawesi Selatan masyarakat suku Bugis Bulukumba masih mempertahankan Mappalecce Bola (memindahkan rumah) dengan cara Ma’Bule’Bola (memikul rumah) sebuah tradisi mengangkat rumah panggung yang dilakukan beramai-ramai.

Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun. Warga yang hendak memindahkan rumahnya akan dibantu oleh warga sekitar dengan sukarela. Bobot rumah yang dipindahkan tentu saja tidak ringan, bisa puluhan ton. Jarak rumah yang dipindahkan ke lokasi baru juga biasanya tidak dekat.

Sekilas, kegiatan memindahkan rumah yang begitu besar tidak masuk akal sehat jika bisa dilakukan dengan tenaga manusia. Namun semangat gotong royong membuktikan bahwa hal yang mustahil bisa terjadi.

Dalam proses pemindahan rumah milik H. Rappe (60) warga terlihat beramai-ramai mengangkat rumah ke lokasi baru yang jaraknya sekitar bebarapa puluh meter.

Untuk memudahkan proses mengangkat rumah awalnya, bambu-bambu diikat di masing-masing tiang rumah. Ini nantinya menjadi alat bantu mengangkat rumah. Bambu tersebut dipanggul bersama-sama untuk mempermudah mengangkat rumah dan memindah ke lokasi baru.

Untuk sampai di lokasi baru yang jaraknya terbilang jauh itu, tak jarang warga harus berkali-kali untuk menurunkan rumah karena terlalu berat, lalu diangkat kembali. Memerlukan waktu beberapa jam untuk bisa tiba di lokasi baru.

Kegiatan memindahkan rumah di desa Panggaloang kecamatan Rilau Ale sesekali sedikit terkendala dengan tanaman pinggir jalan atau bangunan lainya yang menghalangi proses pemindahan. Namun beruntung cuaca cukup mendukung saat itu.

Pemilik rumah, H Rappe mengaku sangat terbantu dengan masih adanya semangat gotong royong seperti ini. Ia mengaku tanpa gotong royong tersebut kemungkinan sangat sulit baginya untuk memindahkan rumahnya, terutama masalah biaya.

“Tapi dengan budaya gotong royong ini kita hanya menyiapkan konsumsi bagi masyarakat yang ikut gotong royong,” ujar H Rappe.

Dandim 1411 Letkol Arm Joko Triyanto Bulukumba melalui Babinsa desa Panggaloang Sertu Sukirman mengatakan, tradisi gotong royong memindahkan rumah tersebut sudah dilakukan oleh masyarakat Panggaloang secara turun-temurun. Warga yang hendak memindahkan rumahnya akan dibantu oleh warga sekitar dengan sukarela.

“Ini budaya gotong royong yang masih hidup dan lestari di masyarakat kita sampai saat ini,” ujarnya.

Bahkan menurut Sukirman secara spontan masyarakat datang membantu. Ratusan orang ikut mengangkat rumah. Penyampaian cuma melalui pengumuman di masjid usai sholat berjamaah dan secara spontan masyarakat datang beramai-ramai,”lanjut Sukirman.

Umumnya lanjut Sukirman setelah rumah selesai dipindahkan atau di tempat baru, kegiatan dilanjutkan dengan acara syukuran atau yang dikenal masyarakat Bugis dengan acara Barazanji. Tujuannya agar rumah yang baru saja dipindahkan terhindar dari

Usai mengangkat rumah ratusan warga yang terlibat dalam kegiatan ini menyantap makanan yang disediakan pemilik rumah. Hal ini juga dianggap sebagai imbalan dan ucapan terima kasih kepada seluruh warga yang rela meluangkan waktu untuk membantu memindahkan rumahnya.

Sementara camat Rilau Ale Andi Mulyadi Pangki yang dikonfirmasi Rubrik.co.id mengaku kagum dengan samangat gotong royong yang masih terjaga sampai hari ini utamanya di Sulawesi Selatan, bukan hanya di Bulukumba bahkan seluruh sulsel masih terpelihara gotong royong seperti ini.

Andi Ady sapaan akrab Andi Mulyadi Pangki mengatakan kalau tradisi Mappalecce Bola ini masih sering dilakukan di Bulukumba. Bukan hanya Mappalecce bola (Pindah rumah) saja namun setelah prosesi Mappalecce Bola selesai masih ada tahapan gotong royong lainya bagian Mabboa yakni memperbaiki bagian bagian rumah yang di pindahkan menjadi utuh kembali.

” Biasanya rumah panggung yang dikasih pindah beberapa bagian di lepas terlebih dahulu, nanti selesai prosesi pemindahan baru di pasang kembali itu namanya tradisi Mabboa (bahasa bugis) “ Kata Andi Ady. (**)