Herman alias Emmak 25 pria asal desa Bontonyeleng kecamatan Gantarang kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan kebingungan antara pulang kampung dan ancaman virus covid-19 yang sekarang juga mulai mulai menyerang kampung halamannya.
“Sekarang saya bingung mau pulang kampung kumpul sama keluarga untuk bangun sahur pertama dan ancaman wabah covid-19 “ungkap Herman melalui cat wasthapp kepada Rubrik.co.id
Sudah hampir dua tahun lamanya dirinya bekerja di Hasjrat Toyota Bitung Sulawesi Utara dan belum pernah pulang ke kampung halamanya untuk berkumpul bersama keluarga. moment ramadhan adalah moment yang sangat dirindukan pemuda lajang ini untuk berharap bisa kembali ke kampung.
” Saya sudah booking tiket pesawat tapi saya masih dihantui kebingungan apa saya harus batalkan atau saya harus pulang kampung, ini yang menjadi beban fikiran saya saat ini, ” Ujarnya.
Herman sempat terpikir untuk pulang ke kampung halamannya beberapa waktu lalu saat pandemi corona muncul pertama akan tetapi, keinginan itu diurungkan karena berada di zona merah pandemi virus corona.
Sementara data Satgas Covid 19 Sulut mendata sebanyak 371 Orang Dalam Pemantauan (ODP) Virus Korona yang tersebar di 15 kabupaten/kota se Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).
Sedangkan tercatat hingga 19 Maret 2020 lalu ODP untuk Kota Manado 198 orang, Kabupaten Minahasa Utara (Minut) 78 orang dan Kota Bitung 41 orang.
” Data ini ambi dari beberapa berita yang saya baca , karena tiap hari saya terus update berita perkembangan covid 19 baik di Bitung maupun di kampung halaman saya Bulukumba, ” Ujarnya.
Dengan banyaknya berita yang saya baca dan lihat saya semakin dibingungkan dengan dua pilihan pulang atau tetap bertahan di perantauan sambil menunggu wabah virus covid 19 hilang.
Setiap saat ia berkomunikasi dengan keluarganya untuk mengentahui kondisi kampung halamanya dan kondisi keluarga ditengah wabah Corona saat ini.
” Saya juga telah menyampaikan kondisi saya kepada keluarga saya tiap saat, saya tidak mau mereka resah dengan wabah virus ini,” Ujarnya.
Kini, Herman mempunyai dua pilihan pulang ke kampung atau tetap bertahan di perantauan.
“Dengar informasi [dari lingkungan sini] kalau bisa jangan keman-mana dulu,saya tambah bingung, ” Tutupnya. (**)






