Rubrik.co.id – Peneliti Ahli Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN Nuraini Rahma Hanifa mengungkapkan gempa bumi Pacitan yang terjadi Jumat dini hari berkaitan dengan aktivitas zona subduksi.
Zona tersebut merupakan titik pertemuan antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia di selatan Pulau Jawa.
Nuraini menjelaskan pergerakan lempeng di wilayah tersebut berlangsung sekitar tujuh sentimeter per tahun dan memicu akumulasi energi tektonik.
“Gempa ini bagian dari siklus pelepasan energi yang wajar,” ujar Nuraini dalam perbincangan bersama Pro 3 RRI, Jumat, 6 Februari 2026.
Ancaman Megathrust Selatan Jawa
Ia menegaskan gempa yang terjadi belum dapat dipastikan sebagai awal dari gempa megathrust.
Meski demikian, potensi gempa besar dengan kekuatan hingga magnitudo 9 tetap terbuka di kawasan tersebut.
Menurut Nuraini, pelepasan energi dapat terjadi secara bertahap maupun sekaligus dalam satu kejadian besar.
Ia juga mengingatkan sejarah tsunami 1994 yang dipicu gempa di Pacitan dan berdampak hingga wilayah Banyuwangi.
Nuraini menilai pemerintah perlu memperkuat kesiapan dengan menyusun peta rawan tsunami yang mudah dipahami masyarakat.
Upaya mitigasi dinilai krusial melalui pembangunan bangunan tahan gempa dan peningkatan kesiapsiagaan warga pesisir.
Sebelumnya, gempa bermagnitudo 6,4 mengguncang Pacitan pada Jumat, 6 Februari 2026, sekitar pukul 01.06 WIB.
BMKG menyatakan gempa tersebut bersumber dari zona megathrust selatan Jawa dengan episenter di laut tenggara Pacitan pada kedalaman 58 kilometer.
BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi memicu tsunami.






