Kades Bontonyeleng Minta Petani Selektif Jual Gabah ke Tengkulak

RUBRIK.co.id,BULUKUMBA- Kepala Desa (Kades) Bontonyeleng, kecamatan Gantarang, kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, meminta petani yang ada di desanya selektif menjual hasil panen berupa gabah kepada para pedagang atau tengkulak. Hal ini guna mengantisipasi terjadinya kenaikan harga di pasaran yang akan memicu inflasi serta menghindari monopoli tengkulak.

Kades Bontonyeleng Andi Mauragawali kepada wartawan Senin 1 April 2024 mengimbau agar petani yang akan menyusul melakukan panen selektif  menjual gabah basah mereka kepada para tengkulak yang berasal dari Bulukumba.

” Saya sudah datangi sejumlah petani langsung ke sawah mereka untuk pintar-pintar menjual gabah mereka ke tengkulak sembari menunggu harga tinggi,” kata Opu sapaan akrab Andi Mauragawali.

Menurut Opu tengkulak yang berasal dari Bulukumba membeli gabah petani dengan berpareasi dengan melihat kuwalitas gabah petani.Karena hama wereng yang menyerang sejumlah tanaman padi petani sehingga banyak petani yang panen awal dengan kondisi tanaman padi mereka belum matang 100 persen hal inilah yang membuat harga tawar pedagang murah.

” Memang saat ini harga ditengkulak sangat murah, karena belum ada pedagang yang dari luar masuk jadi sebanyak tengkulak yang mematok harga murah dengan alasan banyak gabah petani yang kuwalitasnya rendah karena belum menguning semua sudah panen sehingga saat diolah jadi beras kuwalitasnya tidak bagus ini alasan sebagian pedagang gabah yang saya temui di Bontonyeleng,” kata Opu.

Namun menurut Opu  para petani juga banyak yang merasa dilema untuk menahan gabah mereka untuk dijual kepada tengkulak karena desakan kebutuhan untuk saat ini.

” Bulan ramadhan dan sudah dekat idul Fitri itu alasan petani sehingga mau tidak mau mereka menjual gabah mereka ke tengkulak karena butuh uang keperluan memasuki lebaran idul Fitri,” katanya.

Opu menambahkan kalau sebagaian kuwalitas gabah petani musim panen kali ini sangat baik mengingat banyak petani yang menaman padi dari benih bantuan yang berikan pemerintah.

” Kalau bantuan benih yang kami salurkan kuwalitas terbaik jadi saya yakin gabah petani sangat bagus cuman kembali lagi harga yang dimainkan tengkulak,” ujarnya.

Menurut mantan anggota DPRD kabupaten Bulukumba ini kalau harga awal panen petani tembus sekitar Rp6000/ kilogram, tapi saat ini sudah turun sampai Rp5200 perkilogram.

Bahkan menurut Opu kalau petani banyak yang tersandera oleh tengkulak karena sebelum panen ada sejumlah petani yang telah mengambil uang panjar harga gabah kepada para tengkulak sehingga saat musim panen hanya menerimah separuh dari harga jual gabah mereka.

‘ Kami berharap Pemerintah Kabupaten Bulukumba memberikan intervensi untuk membebaskan mereka dari cengkeraman tengkulak,”harap Opu.

Dilanjutkan Opu menjelaskan saat ini musim panen raya di desa Bontonyeleng ada sebagian petani masih bergantung pada tengkulak mulai perawatan tanaman hingga penjualan hasil panen.

Diberitakan sebelumnya harga gabah basah petani di kabupaten Bulukumba terus menurun setiap harinya dari Rp6000 perkilogram, turun menjadi Rp5500 perkilo dan saat ini turun lagi sekitar Rp5200 pekilogram.

Kondisi ini menurut petani akan terus turun mengingat banyaknya stok gabah petani karena masuk musim panen raya.(**)

 

 

 

 

 

 

 

Komentar