RUBRIK.co.id,BULUKUMBA-Sejumlah petani di Kabupaten Bulukumba mengeluhkan anjloknya harga gabah yang dijual di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram (kg) turun menjadi Rp6.300 perkilogram Selasa 8 April 2025.
Padahal, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah menetapkan HPP Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp6.500/kg sebagai bentuk perlindungan terhadap petani dan untuk mendukung swasembada pangan nasional.
Penetapan harga tersebut tertuang dalam Keputusan Kepala Bapanas Nomor 14 Tahun 2025 yang juga menghapus rafaksi harga gabah, selama ini menjadi kendala utama dalam transaksi jual beli gabah petani.
Firman salah seorang petani asal kecamatan Gantarang kepada wartawan kalau harga gabah dalam beberapa hari turun dari harga Rp6.500 ke harga Rp6.300 perkilogram.
” Katanya tidak boleh dibeli diharga yang sudah ditetapkan pemerintah tapi buktinya masi saja turun harga,” Ujar Firman
Belum ada kejelasan dari pemerintah apa penyebab dari penurunan harga gabah ini jelas pedagang sudah melawan keputusan dari pemerintah.
Menanggapi keluhan tersebut, Wakil Kepala Cabang Bulog Bulukumba, Norin Samma menegaskan bahwa seluruh mitra Bulog di wilayahnya tidak diperbolehkan membeli gabah di bawah HPP.
“Kami pastikan mitra Bulog tidak ada yang membeli di bawah harga. Jika ditemukan ada yang bermain, kami akan evaluasi dan bisa kami coret sebagai mitra,” tegas Norin kepada wartawan.
Norin mengakui, meski Bulog terus melakukan penyerapan, pihaknya memiliki keterbatasan sarana dan prasarana. Hal ini membuat tidak semua hasil panen petani dapat dibeli.
“Kapasitas penggilingan mitra dan daya tampung gudang terbatas, sementara produksi gabah terus meningkat. Ini yang jadi tantangan,” ungkapnya.
Bulog Cabang Bulukumba yang juga membawahi Jeneponto, Bantaeng, Sinjai, dan Kepulauan Selayar, menargetkan penyerapan sebesar 9.069 ton periode Januari–April 2025. Hingga 7 April, realisasi serapan telah mencapai 16 ribu ton atau 180 persen dari target. Khusus Bulukumba, penyerapan mencapai 8 ribu ton.
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Hortikultura Bulukumba, Thayeb Maningkasi menjelaskan pihaknya masih memantau dugaan penyerapan gabah petani di bawah harga HPP, apakah dilakukan oleh mitra Bulog atau pedagang umum yang telah lama bermitra dengan petani.
Ia juga menyebut Bulog menghentikan sementara pembelian gabah karena beberapa alasan, seperti terbatasnya kapasitas penggilingan dan hampir penuhnya gudang penyimpanan Bulog.
“Masih banyak gabah lama di mitra yang belum masuk ke gudang Bulog. Karena itu, kami sarankan petani untuk mengeringkan gabah secara swadaya agar bisa dibeli di atas harga HPP sambil menunggu proses penggilingan,” jelas Thayeb.
Ia menambahkan, mitra Bulog perlu menambah fasilitas pengering (dryer) dan gudang penyimpanan di sentra-sentra produksi padi. Sementara itu, pengawalan terhadap harga pembelian gabah tetap dilakukan oleh TNI, Polri, dan Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) secara harian di lapangan.
“Kami juga imbau petani agar tidak memaksakan panen jika belum waktunya. Kalau bisa, tunda tiga sampai empat hari untuk menunggu kelonggaran di penggilingan,” tambahnya.
Dinas Pertanian Bulukumba juga telah berkoordinasi dengan Pemprov Sulsel, pemerintah pusat, serta Bulog untuk mencari solusi terbaik agar gabah petani tetap dibeli dengan harga layak sesuai HPP.
Hingga 6 April 2025, sebanyak 8.563.975 kg gabah petani telah berhasil diserap oleh Bulog. Sementara itu, progres panen di Bulukumba baru mencapai sekitar 20 persen dari total luas tanam 22.756 hektare.***






