Daerah  

Tanah Subur di Jalan “Hantu” Desa Topanda 

Irwan Rubrik
Ketfo : Jalan hantu di desa Topanda, kecamatan Rilau Ale

RUBRIK.co.id,BULUKUMBA- Nama salah satu jalan di desa Topanda, kecamatan Rilau Ale, kabupaten Bulukumba, Sulawesi selatan yang berisebutan “Hantu” teryata berbading lurus dengan makna atau arti dari sebutan jalanya.

Jalan Hantu di desa Topanda ternyata memiliki tanah yang subur dan hampir semua jenis tanaman bisa tumbuh di lokasi tersebut.

Di kawasan jalan hantu yang jaraknya sekitaran 2 kilometer dari jalan poros dipenuhi dengan kebun buah-buahan dan tanaman hasil bumi.

Saat kita mulai menginjakkan kaki masuk di jalan Hantu sudah disuguhkan dengan keindahan alamnya yang sejuk dan disisi kanan jalan terdapat kebun milik warga.

Kebun buah mulai dari rambutan,manggis sampai durian tumbuh di lokasi itu bahkan setiap tahun banyak warga dari luar desa bahkan kabupaten datang di lokasi tersebut untuk menikmati buah.

” Kebun yang ada di jalan hantu apa saja bisa tumbuh disana mulai durian, rambutan sampai beberapa jenis buah bisa tumbuh di sana,” Kata Andi Hidayat Pangki tokoh masyarakat di Desa Topanda senin 23 Juli 2025.

Menurut Andi Hidayat Pangki kalau nama jalan hantu berbading lurus dengan makna nama jalan tersebut.

Hantu berarti roh atau arwah orang yang telah meninggal, yang seringkali digambarkan sebagai makhluk gaib atau penampakan yang menyeramkan. Istilah ini juga bisa merujuk pada makhluk gaib atau supranatural lainnya yang dipercaya menghantui tempat-tempat tertentu atau mengganggu manusia.

Istilah hantu juga bisa digunakan secara lebih luas untuk merujuk pada berbagai jenis makhluk halus atau supranatural, seperti setan, jin, atau makhluk mitos lainnya.

Bukan ganya itu hantu juga bisa merujuk pada penampakan samar atau bayangan yang menyerupai manusia atau makhluk tertentu, yang sering dikaitkan dengan keberadaan makhluk halus.

Dalam konteks agama, hantu bisa dikaitkan dengan konsep jin dalam Islam, yang bisa mengganggu manusia. Dalam beberapa kepercayaan, hantu juga bisa dianggap sebagai representasi dari ketakutan, kecemasan, atau masalah yang belum terselesaikan dalam kehidupan seseorang. ***