RUBRIK.co.id,BULUKUMBA- Pasca bencana meluapnya air di muara sungai Bontonyeleng membuat ribuan petani di dua desa di kecamatan Gantarang terancam kekurangan air untuk persawahan yang mengancam terjadi gagal panen, Selasa 8 juli 2025.
Aliran irigasi induk yang mengarah ke dua desa yakni Bontonyeleng dan Palambarae, kecamatan Gantarang tertimbun pasir, sampah , hingga bebatuan di pintu induk . Hal ini membuat stok air berkurang dan mengancam ribuan hektar tanaman padi milik petani.
Kepala desa Bontonyeleng Andi Mauragawali bergerak cepat berkoordinasi dengan desa Palambarae untuk meminta kerja bakti bersama membersihkan sedimentasi yang menutup pintu air di bendungan induk.
Ratusan petani di dua desa melakukan pembersihan dengan secara manual tanpa ada alat berat seperti excavator.
“Petani gotong royong melakukan pembersihan pasir, sampah dan batu yang menimbun pintu air menuju dua desa dengan cara manual,” ujar Opu sapaan akrab Andi Mauragawali, Selasa 8 juli 2025.
Kerja bakti yang dilakukan mulai pagi sampai siang hari di bendungan induk Selasa pagi akan kembali dilakukan Rabu 9 juli 2025 besok .
Menurut mantan anggota DPRD Bulukumba ini, kalau ini tidak segera dilakukan pembersihan maka dampak besar akan dirasakan petani di dua desa yakni gagal panen karena stok air yang kurang.
Kendati dengan bermodalkan alat seadanya seperti cangkul yang dibawa petani, semangat gotong royong dari warga di dua desa terlihat sangat antusias melakukan pembersihan.
“Sebenarnya yang paling efektif adalah menggunakan alat berat excavator untuk melakukan pengerukan , tapi karena persoalan anggaran kami lakukan dengan sistem gotong royong saja,” ujarnya.
Sainal (46) petani asal desa Bontonyeleng, kecamatan Gantarang mengatakan kalau saluran irigasi induk yang sudah ditutupi sedimentasi akan berdampak pada kekeringan sawah petani di dua desa.
“Terimakasih kepada bapak kepala desa Bontonyeleng yang selalu bergerak cepat dalam melihat keluhan dan kondisi petani akibat air,” ujar Sainal.
Lanjut Sainal kendati pembersihan sedimentasi dilakukan secara manual tapi semangat gotong royong petani di dua desa tetap terjaga.
” Ini pekerjaan alat berat (excavator) , tapi karena kami paham tidak ada anggaran , makanya kami mendukung langkah pemerintah desa untuk bersama-sama gotong royong,” kata Zainal.
Colleng (40) petani asal desa Palambarae mengatakan kalau dampak tertutupnya pintu air irigasi Bontonyeleng yang masuk ke persawahan petani di dua desa akan berdampak pada kekurangan air untuk tanaman padi petani yang mengancam terjadinya gagal panen.
“Bukan hanya petani di desa Bontonyeleng, tapi di Palambarae juga terancam kekurangan air karena irigasi induk dari Bontonyeleng mengaliri dua desa,” kata Colleng.






