Suka Duka Usaha Penggilingan Padi Berjalan di Bulukumba

Irwan Rubrik
Mesin penggilingan padi berjalan yang dimodifikasi menggunakan mobil pickup di Bulukumba.
Ketfo: Penggilingan padi berjalan saat melayani warga

RUBRIK.co.id, BULUKUMBA – Pabrik  berjalan atau penggilingan padi berjalan saat ini semakin banyak ditemui di sejumlah jalan di desa-desa di kabupaten Bulukumba, namun keberadaannya menuai suka dan protes dari warga .

Disisi lainya  penggilingan padi berjalan dinilai warga sangat membantu mengurangi biaya produksi angkutan petani dari lumbung ke pabrik.

“Kalau selama ini, habis panen padi kami harus mengeluarkan biaya dari lokasi panen ke pabrik penggilingan minimal Rp 15.000-Rp20 .000 per karung tergantung jarak antara rumah dan pabrik, sekarang ini tidak lagi, karena pabrik yang mendaatangi rumah kerumah warga,” kata Aminah warga kecamatan Gantarang.

Aminah mengatakan penggilingan padi berjalan menggunakan sistem jemput sehingga tidak lagi mengeluarkan biaya tambahan seperti biaya angku gabah kering warga ke pabrik.

“Bagusnya penggilingan padi berjalan, karena mereka keliling dari desa ke desa untuk mencari warga menggilin  gabah kering mereka jadi beras,”ucap Aminah.

Dampak Polusi Debu dan Limbah Penggilingan Padi Berjalan

Rahma seorang warga kecamatan Gantarang mengaku kehadiran penggilingan padi berjalan membawa dampak polisi terhadap warga, ini disebabkan karena debu yang dimunculkan saat proses penggilingan.

“Debunya kemana-mana ditambah ampas atau kulit padi dibuang sembarang sampai ada juga di irigasi depan rumah, jadi saat hujan terbawah air dan menyebabkan terangkut bersama sampah lainya dan air meluap ke jalan dan ke rumah warga,” kata Rahma.

Namun Rahma mengaku tidak semua pemilik usaha penggilingan padi berjalan membuang kulit padi mereka ke selokan (drainase) ada juga yang memasukkan ke karung kemudian di buang ke penampungan.

Tantangan Usaha dan Biaya Operasional Pabrik Padi Berjalan

Sementara itu salah seorang pemilik penggilingan  padi berjalan,  Omet mengatakan kalau dia mulai merintis usahanya itu sejak beberapa tahun lalu.

“Kalau tidak salah usaha pabrik padi berjalan saya sudah hampir 10 tahun beroperasi dari desanya ke desa tetangga,” kata Omet kepada rubrik.co.id , Jumat 11 Juli 2025.

Lanjut Om Metal (Omet), kalau usaha yang dirintis beberapa tahun lalu cukup menguras biaya karena harga satu mesin masih terbilang tinggi ditambah mobil pickup yang kemudian dimodifikasi untuk menjadi pabrik padi berjalan.

Kehadiran penggilingan padi berjalan miliknya banyak disambut baik oleh warga di desanya yakni desa Sopa, kecamatan Kindang , namun disisi lainya ada juga warga yang protes terhadap usaha ini dikarenakan adanya oknum pengusaha yang sama yang disebut mengotori lingkungan.

” Penggilingan padi berjalan ini, antara suka dan protes,” kata Om Metal.

Dia mengaku kalau setiap selesai melakukan penggilingan kulit padi dibawa pulang dan ditampung di penampungan untuk kemudian di jual kembali.***