Forum Kajian Kebijakan Publik Sebut Demo Penutupan Pabrik Porang Tidak Obyektif

Irwan Rubrik
Aktivitas pabrik porang di Desa Dampang Bulukumba
Muhris Arif ketua Forum Kajian Kebijakan Publik kabupaten Bulukumba

RUBRIK.co.id, BULUKUMBA – Adanya sejumlah aksi demonstrasi yang dilakukan sekelompok orang mendesak agar semua pabrik porang di kabupaten Bulukumba dinilai tidak obyektif, Senin 21 Juli 2025.

Ketua Forum Kajian Kebijakan Publik Panrita Lopi, Muhris Arif kepada rubrik.co.id mengatakan kalau sejumlah aksi menuntut penutupan pabrik porang yang ada desa Dampang , kecamatan Gantarang dan yang lainnya dinilai terlalu dipolitisasi dan terkesan tidak obyektif.

“Kesimpulanx Mengajak para adik-adik Mahasiswa berdemo secara tidak obyektif karena disinyalir ada politisasi terhadap pabrik porang yang ada di desa Dampang dibawah naungan PT. Bumi Bahagia Nusantara,” kata Muhris.

Forum Nilai Aksi Demo Dipolitisasi

Mantan anggota DPRD kabupaten Bulukumba ini sangat menyayangkan adanya aksi demo seperti ini sebelum melakukan kroscek langsung ke lapangan terkait pabrik porang di tiga titik.

Akibat demo tersebut aktivitas pabrik porang termasuk yang ada di desa Dampang, kecamatan Gantarang untuk saat ini memilih untuk beroperasi lagi.

“Saya komunikasi dengan pemilik pabrik porang di Bulukumba mereka terpaksa menghentikan aktivitas pengoperasian,” tegas Muhris.

Pabrik Porang Dinilai Bantu Petani

Menurut Muhris dengan adanya pabrik porang di kabupaten Bulukumba sangat berdampak positif bagi petani porang, alasan salah satunya adalah pemasaran untuk hasil panen petani tidak perlu lagi menunggu lama untuk memasarkan , karena dipastikan akan banyak pedagang ayang akan membeli.

“Harus hal seperti ini didukung, bukan malah didemo minta ditutu, kasihan petani Porang dan pekerja yang ada di pabrik itu mereka mau dimana lagi kerja,” ujarnya.

Sebelum ada pabrik porang di Bulukumba harga tanaman umbi-umbian tersebut terbilang sangat murah bahkan pernah diangkat Rp2000 perkilogram, tapi itu terjadi beberapa tahun lalu.

Dibangunnya pabrik di desa Dampang dan wilayah nilainya di Bulukumba justru sangat membantu petani dan harganya juga naik beberapa kali lipat dari harga beberapa tahun lalu.

” Dulu porang di kirim ke wilayah Jawa, karena adanya pabrik porang, tidak perlu lagi lagi petani kerepotan dalam masalah pemasaran,” ucapnya.

Bahkan Muhris mengaku telah berkomunikasi dengan salah satu direktur pabrik porang di Bulukumba yang mengaku baru sementara melakukan pengurusan ijin, karena saat ini pengoperasian pabrik porang sementara hanya sebagai uji coba.

“Ini baru uji coba sementara sambil proses pengurusan ijin termasuk ipal telah berjalan tinggal menunggu waktu saja,” ujar Muhris .***