RUBRIK.co.id, BULUKUMBA – Musim panen telah di mulai di desa Bontonyeleng, kecamatan Gantarang, kabupaten Bulukumba kurang lebih 500 hektar lahan pertanian akan siap panen.
Kepala desa Bontonyeleng Andi Mauragawali menyebut kalau panen kali ini kemukinan hasilnya akan menurun dari panen sebelumnya.
“Kalau gagal panen tidak, tapi hasilnya yang terancam akan menurun dari panen sebelumnya,” ujar Opu sapaan akrab Andi Mauragawali, Sabtu 9 Agustus 2025.
Ditambahkan Opu kalau saat ini sebagian lahan pertanian telah memulai panen dan ada beberapa yang mengaku hasilnya ada penurunan dari panen sebelumnya.
Adanya beberapa lahan persawahan yang padinya disebut diserang hama akan dikunjungi langsung oleh dinas pertanian bersama petani dan pemerintah desa.
Kades Bontonyeleng Pastikan Tak Ada Gagal Panen
Opu telah meminta agar semua kepala dusun di Desa Bontonyeleng untuk mendata semua tanaman padi petani yang terkena seragam hama dan akan dilihat langsung oleh tim dari dinas pertanian.
“Saya sudah sampaikan kepada seluruh kepala dusun besok pagi kumpul untuk turun bersama melihat tanaman padi petani yang sebut terkena seragam hama,” tegas Opu.
Mengenai adanya ancaman gagal panen di sejumlah lahan pertanian di desanya , Opu mengatakan itu tidak terjadi , hanya kemungkinan hasil panen petani akan menurun.
Sebelumnya sejumlah petani mengaku bibit bantuan padi dari pemerintah mengalami serangan hama.
Kepala bidan Tanaman Pangan Dinas Pertanian Bulukumba, Muh. Nur Jasman, mengatakan pihaknya akan segera melakukan monitoring dan pendampingan di lapangan.
Dinas Pertanian Lakukan Monitoring dan Pendampingan Petani
Menurutnya, secara keseluruhan pertumbuhan padi bantuan masih baik, namun hasil panen memang berbeda-beda tergantung perawatan dan penerapan teknologi oleh petani.
Nur Jasman menilai, salah satu penyebab serangan hama adalah penggunaan pupuk yang tidak seimbang.
“Petani cenderung hanya menggunakan pupuk urea. Harusnya penggunaan nitrogen, fosfat, dan kalium seimbang agar tanaman kuat melawan hama dan penyakit,” ujarnya.
Ia menjelaskan, serangan penggerek batang juga terjadi di beberapa titik akibat cuaca hujan berkepanjangan yang memengaruhi pertumbuhan.
Meski begitu, bibit bantuan yang diberikan telah melalui uji sertifikasi mutu oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB), sehingga secara kualitas layak tanam.
Bantuan bibit padi Inpari 32 ini ditanam di lahan seluas 15.200 hektare yang tersebar di 10 kecamatan, dengan alokasi 25 kg bibit per hektare.
Menurut Jasman, varietas Inpari 32 sendiri sangat diminati petani karena produktivitasnya tinggi, rata-rata bisa mencapai 6–7 ton gabah kering panen per hektare, atau sekitar Rp 39 juta hasil kotor per musim tanam.
Nur Jasman menegaskan, pihaknya akan terus melakukan pendampingan teknis dan administrasi, serta melakukan pengecekan lapangan untuk mencegah gagal panen.***






