RUBRIK.co.id, BULUKUMBA – Petani di desa Somba Palioi, kecamatan Kindang sudah mulai panen raya, namun keluhan datang dikarenakan minimnya alat pertanian seperti mesin pemotong padi.
Minimnya alat pemotong padi atau combine harvester, sehingga petani menggunakan cara manual.
“Semoga panen berikutnya ada bantuan mesin pemotong padi yang masuk ke desa Somba Palioi, agar petani tidak lagi harus menggunakan sistem manual,” kata Juarib Asis salah seorang kepala dusun di desa Somba Palioi, Jumat 22 Agustus 2025.
Menurut Ibenk sapaan akrab Juarib Azis kalau masih banyak petani yang panen memotong padi dengan cara manual kemudian menggunakan mesin rontok.
“Masih di potong secara manual dan setelah itu dimasukkan di mesin rontok padi,” ujarnya
Petani Somba Palioi Masih Menggunakan Sistem Panen Manual
Ibenk berharap agar pemerintah bisa memberikan bantuan mesin pemotong padi ke desa Somba Palioi agar kedepan petani tidak lagi harus memakai sistem manual saat musim panen.
Sementara itu dari pantauan wartawan di desa lainya seperti Bontonyeleng, kecamatan Gantarang belasan combine harvester sudah beroperasi selian milik warga juga merupakan bantuan dari aspirasi anggota DPRD Provinsi maupun DPR RI yang digunakan untuk memotong padi.
“Kalau di desa Bontonyeleng banyak mobil combine harvester milik warga dan ada juga bantuan aspirasi,” kata Zaenal petani asal desa Bontonyeleng.
Perbandingan dengan Desa Bontonyeleng yang Sudah Gunakan Combine Harvester
Menurut Zaenal penggunaan alat/mesin pemotong padi lebih efektif dan efisien dibanding menggunakan jasa buruh tani yang masih menggunakan teknik pemotongan konvensional.
“Kalau mesin combine harvester satu kali kerja, kalau mesin rontok haru dua kali, karena sudah di potong manual dulu, sudah ini dimasukkan lagi ke mesin untuk diolah jadi beras.***






