Daerah  

Ini Sejarah Hari Jadi Sulsel 19 Oktober 1669

Azka Fachri
Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel, Jufri Rahman
Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel, Jufri Rahman

Rubrik.co.id — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memperingati Hari Jadi ke-356 dengan penuh khidmat melalui Rapat Paripurna DPRD Provinsi Sulsel yang digelar di Ruang Pola Kantor Gubernur, Minggu (19/10/2025).

Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel, Jufri Rahman, hadir mewakili Penjabat Gubernur, didampingi Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Sulsel. Dalam upacara resmi itu, Jufri tampil mengenakan busana adat Bugis-Makassar berupa jas tutup coklat beraksen emas, Songkok Recca, dan sarung khas.

Peringatan tahun ini mengusung tema “Sulawesi Selatan Maju dan Berkarakter”, yang menjadi refleksi perjalanan panjang sejarah dan identitas masyarakat Sulawesi Selatan.

Tokoh di Balik Hari Jadi Sulsel

Dalam sambutannya, Sekda Jufri Rahman membacakan sejarah singkat lahirnya Hari Jadi Sulawesi Selatan, yang telah menjadi simbol kebanggaan dan jati diri masyarakat Sulsel.

“Pada Tahun 1993, H.Z.B. Palaguna selaku Gubernur Sulawesi Selatan menggagas lahirnya Hari Jadi Sulawesi Selatan, sebagai upaya meningkatkan kecintaan dan kebanggaan terhadap jati diri masyarakat dalam rasa persatuan dan kesatuan untuk melanjutkan pembangunan nasional di Sulawesi Selatan,” ujar Jufri Rahman.

Ia menuturkan, gagasan tersebut berawal dari seminar Tudang Sipulung yang digelar pada 18–19 Juli 1995, dihadiri cendekiawan, tokoh masyarakat, pinisepuh, pimpinan daerah, serta organisasi pemuda dari seluruh kabupaten dan kota di Sulsel.

Istilah Tudang Sipulung, yang berarti “duduk bersama untuk bermusyawarah”, mencerminkan nilai deliberatif dan partisipatif khas budaya Bugis-Makassar dalam pengambilan keputusan penting.

Forum tersebut menghasilkan lima usulan utama untuk menentukan momentum historis yang pantas dijadikan simbol kelahiran Sulawesi Selatan. Setelah pembahasan mendalam antara Gubernur dan stafnya, diputuskan untuk memadukan berbagai rumusan yang ada menjadi satu makna simbolik: tanggal 19 Oktober 1669.

“Pembahasan secara mendalam dilakukan dan disepakati bahwa tanggal 19 Oktober 1669 memiliki bobot historis dan simbolis yang tinggi. Tahun itu menandai berakhirnya Perang Makassar, yang melambangkan keteguhan dan heroisme rakyat Sulawesi Selatan,” jelas Jufri.

Rumusan tersebut kemudian disahkan melalui Peraturan Daerah (Perda) Tingkat I Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 1995, yang menetapkan 19 Oktober 1669 sebagai Hari Jadi Provinsi Sulawesi Selatan.

Dalam pidatonya, Sekda juga memaparkan makna filosofis dari penetapan tanggal tersebut:

Tanggal 19 merefleksikan semangat persatuan dalam bingkai NKRI, mengacu pada rapat PPKI tanggal 19 Agustus 1945.

Bulan Oktober dipilih karena memuat dua peristiwa penting: dukungan para Raja Sulsel kepada Dr. Ratulangi pada 15 Oktober 1945, serta rekonsiliasi Raja-Raja bersaudara pasca Perang Makassar pada Oktober 1674.

Tahun 1669 menjadi simbol perjuangan dan keteguhan rakyat dalam mempertahankan kedaulatan daerahnya.

“Pilihan tahun yang bersejarah itu dimaksudkan untuk menggugah hati nurani masyarakat Sulawesi Selatan agar tetap waspada terhadap bahaya perpecahan, menjaga kebersamaan, dan memperkuat persatuan demi kelanjutan pembangunan menuju masyarakat sejahtera dan cinta tanah air,” tutur Jufri menutup sambutannya. ***