Operasi Polisi di Rio de Janeiro Tewaskan 64 Orang, Termasuk 4 Petugas

Azka Fachri
The Penha favela complex is among the poorest parts of Brazil's second largest city. Image: Aline Massuca/REUTERS
The Penha favela complex is among the poorest parts of Brazil's second largest city. Image: Aline Massuca/REUTERS

Rubrik.co.id — Sedikitnya 64 orang, termasuk empat polisi, tewas dalam operasi besar-besaran penegakan hukum di Rio de Janeiro, Brasil, Selasa (28/10/2025). Otoritas setempat menyebut operasi ini sebagai yang paling mematikan dalam sejarah kota tersebut.

Gubernur Rio de Janeiro, Claudio Castro, mengumumkan melalui video bahwa 60 orang yang diduga anggota kelompok kriminal “dinetralisir” dalam operasi yang melibatkan lebih dari 2.500 aparat, ratusan kendaraan lapis baja, serta dukungan helikopter. Operasi tersebut juga menargetkan lebih dari 250 surat penangkapan dan penggeledahan.

“Tujuan kami adalah menjadikan Rio de Janeiro dan Brasil bebas dari kejahatan. Kami tidak akan mundur,” kata Castro.

Operasi ini berfokus di wilayah kompleks favela Alemao dan Penha, kawasan padat penduduk berpenghasilan rendah di pinggiran kota Rio. Pemerintah negara bagian menyebut aksi tersebut sebagai bagian dari Operasi Penahanan (Operation Containment), yang ditujukan untuk memberantas perdagangan narkoba dan kejahatan terorganisasi.

Sasaran utama operasi ini adalah kelompok Comando Vermelho atau Red Command, jaringan perdagangan narkoba terbesar di Rio yang menguasai sejumlah wilayah miskin di kota tersebut. “Operasi ini bertujuan menghentikan ekspansi wilayah Comando Vermelho dan menangkap para pemimpin kriminal dari Rio dan negara bagian lain,” tulis Castro di platform X.

Menurut laporan media lokal, bentrokan sengit terjadi antara aparat dan kelompok bersenjata di kawasan target. Sejumlah rumah warga dilaporkan rusak akibat tembakan, sementara beberapa jasad belum bisa dievakuasi dari lokasi.

Diduga Terkait Kejahatan Narkoba

Reporter Al Jazeera, Monica Yanakiew, melaporkan bahwa sekitar 60 persen wilayah Rio de Janeiro kini berada di bawah kendali geng narkoba atau kelompok milisi bersenjata. “Milisi ini merupakan mantan aparat yang kini memungut bayaran keamanan dari warga di kawasan kumuh,” ujarnya.

Data pemerintah menunjukkan Brasil merupakan negara dengan konsumsi kokain terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. Pada 2023, tercatat lebih dari 180 ribu kasus perdagangan kokain dengan penyitaan hampir 130 ton barang bukti.

Operasi polisi di kawasan favela bukan hal baru dan kerap menimbulkan korban jiwa. Pada 2024, sekitar 700 orang tewas dalam penggerebekan serupa di Rio — rata-rata dua kematian per hari. Salah satu insiden paling mematikan terjadi pada 2021 di favela Jacarezinho yang menewaskan sedikitnya 25 orang.

Sementara itu, kelompok pegiat hak asasi manusia mempertanyakan waktu pelaksanaan operasi besar ini, mengingat Rio de Janeiro akan menjadi tuan rumah C40 World Mayors Summit dan Earthshot Prize yang dihadiri Pangeran William pekan depan.

Brasil juga akan menjadi tuan rumah KTT Iklim PBB (COP30) di Belem, Amazon, mulai 10 November mendatang. Isu kekerasan dan keamanan publik diperkirakan akan menjadi sorotan menjelang pemilu nasional 2026, di mana Presiden Luiz Inacio Lula da Silva telah menyatakan akan maju kembali. ***