Rubrik.co.id – Sejumlah influencer Indonesia dinilai menggambarkan kehidupan dan penghasilan di Australia secara berlebihan, khususnya bagi pemegang visa Work and Holiday (WHV).
Narasi tentang kemudahan kerja dan pendapatan tinggi di media sosial disebut tidak sepenuhnya mencerminkan realitas yang dihadapi para pekerja migran.
Catherine, seorang apoteker asal Indonesia, mengaku tertarik bekerja di Australia setelah melihat konten TikTok dan Instagram yang menjanjikan penghasilan hingga satu miliar rupiah per tahun.
Ia kemudian datang ke Australia dengan WHV pada awal 2025, berharap dapat memperbaiki kondisi keuangan sekaligus merasakan hidup di luar negeri.
Namun, gambaran tersebut berubah setelah ia tiba di Perth. Catherine memulai pekerjaan sebagai petugas kebersihan, lalu bekerja rangkap di sektor housekeeping dan ritel.
Penghasilan yang diterima tidak sebesar yang dibayangkan, sementara beban kerja justru sangat menguras fisik dan mental.
Ia menyebut, penghasilan besar memang mungkin diraih, tetapi harus dibayar dengan pengorbanan besar, termasuk bekerja di beberapa tempat sekaligus dengan jam kerja panjang.
Fenomena serupa dialami banyak warga Indonesia lain yang terpengaruh konten influencer WHV. Sejumlah konten menampilkan pekerjaan di pertanian, rumah potong hewan, atau supermarket sebagai pekerjaan mudah, bahkan tanpa kemampuan bahasa Inggris. Kenyataannya, banyak pendatang baru justru menghadapi biaya hidup tinggi, pekerjaan berat, hingga risiko keselamatan kerja.
Disorot Media Australi
Laporan media Australia juga mencatat sejumlah pemegang WHV asal Indonesia mengalami kecelakaan kerja, bahkan setidaknya sembilan orang meninggal dunia dalam beberapa tahun terakhir saat bepergian menuju atau pulang dari tempat kerja.
Selain gambaran menyesatkan soal penghasilan, muncul pula praktik penipuan terkait pengurusan visa.
Anwar Ibrahim, misalnya, mengaku tertipu setelah membayar ribuan dolar kepada pihak yang mengklaim bisa membantu mendapatkan surat rekomendasi pemerintah Indonesia. Dokumen palsu yang diterimanya membuat pengajuan visanya ditolak.
Kasus serupa dialami Yopan Pakendek yang beberapa kali gagal memperoleh surat rekomendasi WHV dikutip Rubrik.co.id dari Media ABC Australia.
Ia kemudian membayar puluhan juta rupiah kepada seseorang yang mengaku memiliki koneksi internal, namun upaya tersebut juga tidak membuahkan hasil sesuai harapan.
Di sisi lain, tidak semua kreator konten WHV dinilai menyesatkan. Influencer Mekarisa Asharina menilai banyak konten terlalu berorientasi pada uang demi clickbait. Ia memilih menyajikan informasi yang lebih seimbang tentang tantangan kerja, upah minimum, dan realitas hidup di Australia.
Peneliti media digital dan migrasi dari University of Melbourne, Monika Winarnita, menilai influencer seharusnya menyampaikan gambaran utuh, termasuk soal ketidakpastian visa, jam kerja panjang, serta risiko eksploitasi tenaga kerja.
Pemerintah Australia menegaskan pemegang WHV memiliki hak dan perlindungan kerja yang sama dengan warga lokal.
Sementara pemerintah Indonesia mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap konten media sosial yang terlalu mengglorifikasi kerja di luar negeri tanpa informasi yang berimbang. ***






