Rubrik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin bergerak fluktuatif seiring pelaku pasar merespons kombinasi sentimen domestik dan global.
Pada awal perdagangan, IHSG tercatat menguat 19,04 poin atau 0,24 persen ke level 7.954,30.
Indeks LQ45 yang merepresentasikan saham-saham unggulan turut bergerak positif dengan kenaikan 2,60 poin atau 0,32 persen ke posisi 818,18.
Analis Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai pergerakan IHSG masih berada dalam fase pencarian arah.
“IHSG dalam waktu dekat adalah berusaha naik kembali ke atas level psikologis 8.000 serta tutup gap di level 8.102 sebagai resistance pertama.”
Namun demikian, risiko tekanan lanjutan tetap terbuka apabila area penopang teknikal gagal dipertahankan.
Jika level 7.860 kembali ditembus ke bawah, ruang koreksi dinilai mengarah ke rentang 7.710 hingga 7.480.
Tekanan Domestik dan Global Menguat
Dari sisi dalam negeri, sentimen pasar terbebani oleh akumulasi isu penyesuaian indeks MSCI dan perubahan pandangan sejumlah lembaga keuangan global.
Goldman Sachs, UBS, serta Nomura sebelumnya merevisi pandangan mereka terhadap pasar saham Indonesia.
Tekanan meningkat setelah Moody’s Investors Service menurunkan outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski peringkat sovereign tetap berada di level Baa2.
Sejalan dengan perubahan outlook tersebut, Moody’s juga merevisi prospek sejumlah emiten besar perbankan dan korporasi strategis menjadi negatif.
Langkah ini dinilai mencerminkan meningkatnya risiko apabila konsistensi kebijakan fiskal dan efektivitas komunikasi pemerintah tidak menunjukkan perbaikan.
Bursa Efek Indonesia merespons kondisi tersebut dengan menerbitkan aturan baru terkait porsi saham publik dalam penawaran umum perdana.
Aturan tersebut menetapkan free float minimal 15 hingga 25 persen berdasarkan kapitalisasi pasar emiten.
Otoritas Jasa Keuangan menegaskan perusahaan yang telah masuk pipeline IPO kuartal I 2026 masih menggunakan ketentuan lama dengan free float minimum 7,5 persen.
Bank Indonesia menyampaikan komitmen menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi di tengah potensi pembalikan arus modal secara tiba-tiba.
Hasil uji ketahanan BI menunjukkan sistem keuangan nasional masih solid dengan rasio kecukupan modal sekitar 26 persen dan likuiditas perbankan tetap terjaga.
Dari sisi ekonomi riil, pemerintah mulai merealisasikan fase awal enam proyek hilirisasi strategis dengan nilai investasi sekitar 7 miliar dolar AS.
Proyek tersebut diproyeksikan menyerap sekitar 3.000 tenaga kerja dan mendorong aktivitas industri dalam negeri.
Pemerintah juga menegaskan kondisi fundamental ekonomi tetap terjaga dengan pertumbuhan PDB kuartal IV 2025 sebesar 5,39 persen.
Secara tahunan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen dengan defisit APBN tercatat 2,92 persen dan rasio utang sekitar 40 persen terhadap PDB.
Dari luar negeri, pelaku pasar mencermati rilis data nonfarm payrolls Amerika Serikat yang akan memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed.
Fokus global lainnya tertuju pada hasil final pemilu Jepang, dinamika perundingan nuklir AS dan Iran, serta tindak lanjut kesepakatan dagang AS dan India.
Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, indeks utama Wall Street bergerak menguat secara serempak.
Indeks Dow Jones melonjak 2,47 persen, S&P 500 naik 1,97 persen, dan Nasdaq Composite menguat 2,15 persen.
Bursa saham Asia pada perdagangan pagi ini juga menunjukkan penguatan, dipimpin lonjakan indeks Nikkei Jepang lebih dari 4 persen.






