Daerah  

Tradisi 10 Muharram, Emak-emak di Bulukumba Serbu Pedagang Alat Dapur

Irwan Rubrik
IMG 20250706
Ketfo: Warga saat memadati toko Cahaya Lajae kabupaten Bulukumba untuk berburu alat dapur di tradisi 10 Muharram, minggu 6 Juli 2026

RUBRIK.co.id,BULUKUMBA- Pemandangan berbeda yang terlihat di sejumlah toko dan pasar tradisional di kota kabupaten Bulukumba. Pada 10 Muharram ini, warga menyerbu pedagang alat rumah tangga.

“Setiap 10 Muharram, pagi hingga sore, warga menyerbu pedagang peralatan dapur. Namun kami lebih memilih gayung serta ember,“ kata Nurwahidah warga kecamatan Gantarang kepada rubrik.co.id saat ditemui di toko Cahaya Lajae di pertigaan jalan Sam Ratulangi kota Bulukumba, minggu 6 Juli 2025.

Tradisi 10 Muharram yang diwarnai belanja peralatan dapur, dipercaya bisa melancarkan rezeki. Misalnya, timba yang digunakan untuk mengambil air. Mereka meyakininya sebagai simbolisasi “menimba” rezeki.

“10 Muharram (pasar curah bahasa Bugis) kita mendapatkan pembeli yang sangat banyak bahkan sampai ratusan pembeli sejak pagi sampai saat ini,” Kata H Yudha Owner toko Cahaya Lajae Bulukumba kepada wartawan.

Bahkan H.Yudha mengaku pembeli yang datang dari berbagai wilayah di kabupaten Bulukumba sejak pagi membuat dirinya harus menambah karyawan termasuk kasir.

Kendati telah menambah kasir menjadi lima orang, namun tetap kuwalahan melayani pembeli yang didominasi emak-emak.

“Kemarin saya pakai orang kasir sekarang saya tambah jadi lima orang, tapi masih kuwalahan melayani pembeli,” Ujarnya.

Emak-emak yang membeli di toko Cahaya Lajae kebanyakan membeli alat dapur, selain gayung, ember juga alat dapur lainya yang diburu warga.

“Untung saja saya ambil memang persiapan alat dapur jauh hari, coba tidak mungkin baru pagi sudah habis di borong warga,” Kata H Yudha.

Seorang tokoh Agama Kota Bulukumba Abu Bakat menuturkan, tradisi macam ini sudah ada sejak sebelum masa penjajahan.

“Salah satu yang menjadi alat penyebaran Agama Islam, adalah melalui tradisi dan budaya,” kata dia.***