RUBRIK.co.id,BULUKUMBA- Gotong royong merupakan ciri khas kita sebagai warga Negara Indonesia, dan juga sebagai Icon pancasila yang tertuang dalam butir pengamalan Pancasila dan tentunya tidak dimiliki oleh Bangsa lain.
Namun jangan heran jika budaya warisan leluhur kita ini sudah mulai terkikis oleh peradaban zaman sehingga jarang dijumpai lagi terkhusus di kabupaten Bulukumba.
Namun itu berbeda dengan yang dilakukan oleh kepala Desa Bontonyeleng Andi Mauragawali yang terus menggelorakan gotong royong ke warganya untuk tetap dipertahankan sebagai warisan leluhur.
Terlihat ratusan dari warga lima dusun di Desa Bontonyeleng saling berbaur membersihkan sampah, pasir hingga batu besar di aliran sungai Bijawang dimana sungai tersebut adalah nafas kehidupan petani di desanya.
Warga terlihat kompak tanpa komando turun bersama ke aliran sungai bendungan induk Bontonyeleng selama dua hari terakhir.
Tidak hanya kaum laki-laki dan remaja yang terlihat, bahkan ibu rumah tangga juga turun untuk mengeruk pasir, bebatuan dan krikil di aliran sungai Bijawang.
Bendungan induk yang merupakan nyawa untuk tanaman petani di desa Bontonyeleng seolah menjadi magnet tersendiri bagi ratusan petani untuk membersihkan semua sampah yang menghalangi aliran air masuk ke irigasi menuju sawah mereka.
Sejak terpilih sebagai Kepala Desa pilihan masyarakat rupanya semangat gotong royong warga Desa Bontonyeleng dengan kehadiran kembali tumbuh.
“Gotong royong adalah wujud nyata dalam bentuk interaksi sosial dan juga merupakan tradisi leluhur kita yang harus terpelihara dengan baik dalam kehidupan masyarakat”,kata Opu sapaan akrab Andi Mauragawali kepala desa Bontonyeleng kepada rubrik.co.id, Rabu 9 juli 2025.
Dengan gotong royong lanjut kata Opu rasa kepedulian kita akan tumbuh begitu juga hubungan silaturahmi terjalin dengan baik. Dilain sisi gotong royong juga sangat penting dalam membangunan di Desa kita kedepanya.
“Gotong royong ini rutin akan kita laksanakan secara rutin, bukan hanya pembersihan sampah di sungai, namun kedepan semua pekerjaan berat yang ada di desa bisa kita selesaikan dengan gotong royong,” tutup Opu.***






