RUBRIK.co.id,BULUKUMBA- Korban sengatan listrik jerat babi hutan terus berjatuhan di kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Dari pertengahan bulan Juni lalu sampai awal bulan juli 2025 sudah dua warga ditemukan tewas di kebun.
Peristiwa bulan juni lalu seorang perempuan bernama Susianti (40) warga Dusun Sakui-kui ditemukan warga tewas di salah satu kebun akibat tersengat listrik jerat babi.
Korban ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa oleh warga dalam posisi tertelungkup di kebun.
Tidak sampai disitu kembali sengatan listrik jerat hama babi kembali menewaskan Ahmad (77) warga kampung Bondia, desa Paccaramengan, kecamatan Ujung Loe yang ditemukan warga sudah tidak bernyawa di kebunnya sendiri, Rabu pagi Rabu 9 Juli 2025 sekitar pukul 09:00 wita.
Korban tewas akibat listrik jerat babi yang di pasang sendiri di kebun miliknya di desa Paccaramengan.
Salah seorang sumber mengatakan listrik jerat dipasang korban belum lama ini untuk mengusir hama babi yang memakan tanaman dalam kebun milik korban.
Sementara itu Kapolres Bulukumba AKBP Restu Wijayanto melalui Kasi Humas AKP H Marala menghimbau kepada seluruh masyarakat untuk memasang listrik jerat babi , karena dinilai melanggar hukum dan membahayakan orang lain termasuk yang memasang sendiri.
“Kami berharap kepada para kepala desa dan lurah serta bhabinkamtibmas agar menyampaikan kepada masyarakat untuk tidak menggunakan perangkat babi yang beraliran listrik,” Imbau H Marala
Menurut H Marala penggunaan perangkat babi yang beraliran listrik tersebut dapat menimbulkan bahaya bagi manusia dan hewan lainnya. Maka dari itu mari kita bersama-sama mencari solusi untuk membuat jeratan babi dengan metode pengendalian hama babi yang lebih aman dan ramah lingkungan,” Jelasnya.
Menurut H Marala petani pengguna perangkap babi yang beraliran listrik agar tidak lagi menggunakannya. Karena dapat menyebabkan manusia ikut tersengat dan sambil mencari solusi yang ramah bagi lingkungan disekitar tanaman.
“Saya juga berharap kepada masyarakat bisa memberikan masukan. Barangkali ada yang bisa menawarkan teknologi atau metode lainnya kepada pemerintah setempat supaya petani bisa bekerja dengan aman dan berhasil.” Tutupnya.***






