RUBRIK.co.id, BULUKUMBA – Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 80 di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) kelas II A kabupaten Bulukumba ada bendera negara Belanda berkibar di tiang bambu.
Bendera belanda yang berkibar merupakan bagian dari pertunjukan drama teatrikal warga binaan lapas dalam memperingati perjuangan para pahlawan saat merebut kemerdekaan.
Drama teatrikal sejarah perjuangan bertajuk “Kembali Putih” diperangkan oleh para narapidana di depan Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf, Wakil Bupati Andi Edy Manaf, Sekda Ali Salleng Kalapas Akbar Amnur, warga binaan serta tamu lainya.
Kegiatan tahunan ini dilakukan sebagai pengingat peristiwa bersejarah perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato pada 19 September 1945, sekaligus perjuangan arek-arek Suroboyo dalam melawan penjajah di zaman dulu.
Warga binaan lapas Bulukumba sangat antusias mengikuti acara tersebut. Lagu-lagu seputar perjuangan dinyanyikan oleh band dan diikuti warga sehingga membakar semangat perjuangan di depan para warna binaan.
Selain menampilkan drama teatrikal penurunan bendera Belanda warga binaan pemasyarakatan (WBP) di lembaga pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bulukumba mendapatkan remisi pada momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 80 Republik Indonesia, pada Minggu 17 Agustus 2025.
Drama Teatrikal dan Remisi Warga Binaan
Tahun ini tidak hanya pemberian remisi umum. Namun terdapat pemberian remisi istimewa, yaitu remisi Asta Dasawarsa yang ditetapkan tiap kelipatan 10 tahun Kemerdekaan RI.
Kalapas Kelas IIA Bulukumba, Akbar Amnur menguraikan beberapa item kegiatan memeriahkan HUT ke 80 RI di lingkungan Lapas Bulukumba, yaitu Porseni antar WBP dan Petugas Lapas, pemberian bantuan sosial, pemeriksaan kesehatan, kerja bakti, Mini Soccer APH Cup.
Bukan hanya itu juga digelar drama teatrikal perjuangan dimana para pahlawan saat memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia dengan menampilkan saat bendera Belanda diturunkan dan diganti dengan bendera merah putih.
“Kegiatan hari ini bukan sekadar seremoni pemberian remisi seperti biasanya. Namun juga disertai dengan kegiatan penting lainnya, seperti peresmian Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) sebagai fasilitas pembinaan produktif bagi WBP serta pertunjukan drama teatrikal,”ungkapnya.
“Kemudian ada penanaman pohon sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan komitmen jangka panjang terhadap pelestarian alam,” sambung Akbar Amnur.
Lanjut dia, ada panen hasil pertanian dari program kemandirian pangan WBP, yang selaras dengan arah kebijakan Presiden RI tentang ketahanan pangan nasional.
“Hasil tanaman ini kebun asimilasi ini juga untuk konsumsi warga binaan, sehingga lebih menghemat,” tambahnya.
“Ada juga peresmian Gugus Tugas Depan (Gudep) Pramuka bagi WBP, sebagai bagian dari pembinaan karakter wawasan kebangsaan, dan penguatan integritas moral narapidana,” jelas Akbar Amnur.
Lebih lanjut, Akbar Amnur berharap ke depan agar Forkopimda dan seluruh elemen masyarakat untuk terus bersinergi memberikan dukungan dalam mendorong terciptanya reintegrasi sosial warna binaan.
“Kami percaya kolaborasi ini akan menciptakan sistem pemasyarakatan yang lebih inklusif, humanis, dan berdampak nyata bagi masyarakat,” kata Akbar Amnur.
Pada momentum ini, warga binaan menampilkan tetrikal kisah para pejuang kemerdekaan membela dan memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.***






