Dihantui Royalti, Cafe dan Restoran di Bulukumba Pilih Tak Putar Musik Lagi

Irwan Syah
pengunjung kafe duduk tanpa hiburan musik akibat kebijakan royalti
Ilustrasi musik. (Sebastiano Rizzardo/Pixabay)

RUBRIK.co.id, BULUKUMBA – Suasana sunyi mulai terasa di berbagai kafe hingga restoran. Bukan karena sepi pengunjung, namun imbas dari kebijakan baru Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) yang mewajibkan pelaku usaha membayar royalti jika ingin memutar musik di tempat umum.

Kendati belum ada sosialisasi di kabupaten Bulukumba, namun sejumlah cafe dan restoran mulai enggan atau tidak mau memutar musik.

Sejumlah pelaku usaha di Bumi Panrita  Lopi pun mulai menghentikan memutar musik di tempat mereka, bahkan memilih menonaktifkan sistem audio sepenuhnya demi menghindari risiko denda yang tak sedikit.

Saat wartawan mendatangi salah satu kafe di jalan kota Bulukumba biasanya pengunjung disuguhi dengan musik. Namun sejak ramainya tarif royalti, kafe itu sudah tidak memutar musik. Sehingga suasananya pun terasa kurang nyaman.

Dampak Kebijakan Royalti terhadap Usaha Kuliner di Bulukumba

Tasya seorang pengunjung mengungkapkan, sejak ramaianya tarif royalti, banyak kafe yang tidak memutar musik.

“Saya datang ke beberapa kafe, sudah tidak memutar musik lagi. Padahal biasanya yang diputar lagu-lagu yang sedang nge-hits,” ujar Tasya kepada wartawan, Selasa 19 Agustus 2025.

Respons Pemilik Café dan Tanggapan Pengunjung

Hal serupa juga dilakukan cafe Circle di jalan Jenderal Sudirman yang sebelumnya memutar dan live musik memilih untukmenghentikan.

Kendati belum ada sosialisasi dari pihak terkait tentang royalti bagi cafe yang memutar musik, namun pihak cafe telah melakukan penghentian sebagai bentuk antisipasi kedepanya.

“Kami sudah hentikan sejak isu pemilik cafe harus membayar royalti saat memutar music,” kata Manajer Cafe Circle Nova Aulia saat diwawancarai oleh wartawan Selasa 19 November 2025.

Menurut Nova kalau penghentian pemutaran musik tidak berdampak pada omset ataupun pengunjung yang datang ke cafe tersebut.

Menurutnya kendati tidak ada pemutaran musik tetap ramai pengunjung dan sejak dihentikannya pemutaran musik juga belum ada konsumen yang protes.

“Kami hentikan sejak adanya isu royalti, namun tidak mempengaruhi pengunjung yang datang,” katanya.

Ditambahkan Nova kalau banyak juga pengunjung yang sebenarnya tidak mempersoalkan ada tidaknya pemutaran musik di cafe , karena memang ada pengunjung juga kemungkinan merasa terganggu dengan adanya suara music.

“Banyak juga pengunjung yang sebenarnya lebih suka kalau tidak ada musik, karena mereka mau ngobrol santai di cafe, bisa saja suara musik menganggu mereka,” katanya.***