Daerah  

Kafe Terapung di Kapal Pinisi Manjakan Wisatawan di Pantai Merpati

Azka Fachri
Pinisi Resto di Pantai Merpati
Pinisi Resto di Pantai Merpati

Rubrik.co.id — Festival Pinisi XV Tahun 2025 Bulukumba siap menghadirkan kejutan baru bagi wisatawan dengan konsep wisata bahari yang semakin menarik. Salah satu agenda paling dinantikan adalah launching Kapal Pinisi sebagai Café dan Resto Terapung, yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 25 Oktober 2025 di Kolam Labu, Pantai Merpati, Bulukumba.

Inovasi ini menjadi daya tarik tersendiri dalam rangkaian Festival Pinisi XV 2025 yang digelar selama tiga hari, mulai 23 hingga 25 Oktober 2025. Melalui konsep “Pinisi Sailing”, Kapal Pinisi legendaris — simbol kebanggaan masyarakat Bulukumba — dikembangkan menjadi destinasi kuliner baru yang mengapung di atas laut, memadukan suasana santai, pemandangan laut, dan cita rasa khas Bulukumba.

Sajian Budaya dan Rekor MURI

Tidak hanya menghadirkan café terapung, hari ketiga festival juga akan diramaikan dengan pemecahan rekor MURI minum kopi Kahayya dengan gula aren oleh peserta terbanyak, bakar ikan terpanjang, serta pemutaran video sejarah Kapal Pinisi. Rangkaian kegiatan ini menjadi simbol apresiasi terhadap warisan maritim dan budaya masyarakat Bulukumba yang telah dikenal sebagai Bumi Panrita Lopi.

Selain itu, Festival Pinisi XV juga menyuguhkan berbagai kegiatan budaya, di antaranya Annyorong Lopi, Songkabala ri Bantilang, serta Karnaval Budaya yang melibatkan peserta dari berbagai kecamatan. Setiap kegiatan mencerminkan semangat gotong royong dan pelestarian tradisi bahari yang menjadi identitas daerah ini.

Puncak Penutupan di Pantai Merpati

Sebagai penutup, malam puncak Festival Pinisi XV 2025 akan digelar di Pantai Merpati dengan penampilan bintang tamu (guest star performance) yang siap menghibur masyarakat dan wisatawan.

Dengan hadirnya konsep Café & Resto Terapung di Kapal Pinisi, Bulukumba tak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga berinovasi untuk memperkuat daya tarik wisata baharinya. Festival ini menjadi bukti nyata bahwa warisan budaya bisa terus hidup seiring kemajuan zaman. ***