Rubrik.co.id – Pemerintah Venezuela mengecam keras serangan militer yang diduga dilakukan Amerika Serikat terhadap sejumlah wilayah di negara tersebut.
Serangan itu memicu ketegangan tinggi dan mendorong warga sipil turun ke jalan untuk menyuarakan penolakan terhadap apa yang mereka sebut sebagai aksi penjajahan.
Menteri Luar Negeri Venezuela, Yvan Gil, pada Sabtu (3/1), menilai tindakan Amerika Serikat sebagai upaya memaksakan perang kolonial dan menggulingkan pemerintahan sah Republik Bolivarian Venezuela.
“Upaya memaksakan perang kolonial untuk menghancurkan bentuk pemerintahan republik dan memaksakan perubahan rezim, dengan bersekutu bersama oligarki fasis, akan gagal sebagaimana semua upaya sebelumnya telah gagal,” ujar Gil dalam pernyataan resminya.
Gil menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berpotensi mengancam perdamaian serta stabilitas internasional, khususnya di kawasan Amerika Latin dan Karibia.
“Republik Bolivarian Venezuela menolak, mengecam, dan mengadukan kepada komunitas internasional agresi militer yang sangat serius ini, yang dilakukan oleh Pemerintah Amerika Serikat terhadap wilayah dan penduduk Venezuela,” tegasnya.
Menurut Gil, serangan tersebut menyasar sejumlah lokasi sipil dan militer di ibu kota Caracas, serta wilayah negara bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira. Ia menilai agresi itu membahayakan keselamatan jutaan warga sipil.
“Agresi semacam ini mengancam perdamaian dan stabilitas internasional, serta menempatkan nyawa jutaan orang dalam risiko serius,” tambahnya.
Gil juga menuding tujuan utama serangan tersebut adalah untuk merebut sumber daya strategis Venezuela, terutama minyak dan mineral, sekaligus melemahkan kedaulatan dan kemandirian politik negara itu.
“Mereka tidak akan berhasil,” kata Gil menegaskan.
Sebagai langkah tanggap darurat, Presiden Venezuela Nicolas Maduro dilaporkan telah menandatangani dekret penetapan Status Gangguan Eksternal di seluruh wilayah negara. Kebijakan itu diberlakukan untuk melindungi warga sipil serta memastikan roda pemerintahan dan lembaga negara tetap berjalan.
Sebelumnya, media setempat melaporkan terdengarnya sejumlah ledakan keras di ibu kota Caracas di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan asap tebal membumbung di beberapa titik kota, disertai suara sirene peringatan serangan udara.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui platform Truth Social mengklaim bahwa pasukan AS telah melancarkan operasi militer ke Venezuela dan berhasil menangkap Presiden Nicolas Maduro.
Klaim tersebut semakin memicu kemarahan publik Venezuela. Sejumlah kelompok masyarakat dan organisasi patriot mulai melakukan mobilisasi massa untuk menyatakan perlawanan.
Warga Turun ke Jalan
Dalam video yang beredar luas di media sosial, ratusan warga terlihat turun ke jalan sambil meneriakkan slogan anti-penjajahan dan menyerukan pembelaan terhadap kedaulatan nasional.
“Kelompok-kelompok patriot Venezuela mulai turun ke jalan untuk membela tanah air mereka dari penjajah,” tulis akun @ElNecio_Cuba di platform X.
Hingga kini, situasi di Venezuela masih berkembang, sementara komunitas internasional terus memantau eskalasi ketegangan antara Caracas dan Washington.






