Rubrik.co.id — Pakar urusan luar negeri Iran, Khoshcheshm, mengungkapkan bahwa Amerika Serikat disebut telah merencanakan operasi penculikan di dalam wilayah Iran selama Perang 12 Hari.
Operasi tersebut diklaim meniru pola yang pernah diterapkan di Venezuela, dengan memanfaatkan warga negara ganda serta jaringan pendukung lokal sebagai kedok.
Menurut Khoshcheshm, intelijen Iran berhasil membongkar rencana tersebut sebelum pasukan khusus asing memasuki wilayah negara itu.
Seluruh jaringan pendukung lokal dilaporkan telah ditangkap bersama perlengkapan yang digunakan untuk operasi tersebut.
Ia menjelaskan bahwa sejumlah warga negara ganda telah masuk ke Iran jauh sebelum rencana eksekusi dilakukan dan ditempatkan di lokasi sekitar 100 hingga 200 kilometer di luar Teheran.
Mata-mata Berkedok Tukang
Salah satu individu yang terlibat disebut merupakan tukang kayu profesional asal Jerman yang datang dengan kedok usaha pembuatan furnitur dan pertukangan.
“Orang ini membawa peralatan kelas atas dan secara resmi beraktivitas sebagai pengrajin kayu,” ujar Khoshcheshm dikutip dari @SoftWarNews.
Namun, menurutnya, aktivitas tersebut dimanfaatkan untuk membangun kompartemen kayu khusus yang dirancang untuk keperluan penculikan.
Disebutkan terdapat tiga kompartemen kayu yang telah disiapkan. Kelompok ini berperan sebagai tim pendukung yang bertugas memfasilitasi operasi penculikan sebelum target dibawa keluar wilayah Iran.
Khoshcheshm menambahkan bahwa rencana tersebut melibatkan penerjunan beberapa tim dari unit operasi khusus Israel dan Amerika Serikat yang akan diterbangkan dari luar negeri.
Namun, situasi di lapangan berubah drastis setelah jaringan pendukung terdeteksi dan mendapat tekanan keamanan yang kuat.
“Mereka terkena serangan yang sangat keras, situasinya menjadi sangat buruk bagi mereka, sehingga seluruh kelompok pendukung ditangkap beserta semua perlengkapannya,” kata dia.
Ia menilai pola operasi ini serupa dengan pendekatan yang disebut pernah dilakukan di Venezuela, yakni operasi kejut dan lumpuh dengan menyerang beberapa titik, menciptakan kekacauan, menetralkan situasi, lalu melakukan penculikan dan segera meninggalkan lokasi.
“Di Venezuela, mereka menyerang beberapa tempat, menciptakan kejutan, lalu membawa Maduro dan menculiknya. Apakah Anda pikir mereka tidak ingin melakukan hal yang sama kepada kami?” ujarnya. “Mereka ingin, tetapi mereka gagal.” ***






