Rubrik.co.id — Dua warga Israel dilaporkan tewas dalam aksi unjuk rasa besar-besaran yang menentang kebijakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Selasa (6/1).
Insiden maut terjadi ketika sebuah bus menabrak kerumunan demonstran yang memblokir jalan di Yerusalem.
Aksi tersebut diikuti ribuan warga, mayoritas dari kelompok Yahudi ultra-Ortodoks, yang memprotes rencana pemerintah memberlakukan undang-undang wajib militer bagi komunitas mereka.
Demonstrasi semula berlangsung damai, namun kemudian berubah ricuh dan berujung tragedi.
Layanan darurat Magen David Adom menyatakan sebuah bus menabrak sejumlah pejalan kaki di tengah kerumunan.
Dalam kejadian itu, dua demonstran dilaporkan meninggal dunia, sementara beberapa lainnya mengalami luka-luka. Salah satu korban disebut terjebak di bawah kendaraan dan mengalami luka fatal di lokasi kejadian.
Kepolisian Israel menyebutkan kericuhan pecah setelah massa memblokir arus lalu lintas, merusak kendaraan umum, membakar tempat sampah, serta melempar benda ke arah petugas keamanan dan jurnalis.
Bus yang terlibat kecelakaan dilaporkan sempat dihadang dan dirusak oleh massa sebelum insiden terjadi.
Sopir bus telah diamankan untuk dimintai keterangan. Polisi menegaskan, berdasarkan penyelidikan awal, peristiwa tersebut merupakan kecelakaan dan tidak terkait dengan aksi terorisme.
Isu wajib militer bagi kaum ultra-Ortodoks menjadi sumber ketegangan politik yang serius di Israel.
Yahudi Tolak Wajib Militer
Sejak berdirinya negara itu pada 1948, kelompok religius yang mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari kitab suci Yahudi mendapatkan pengecualian dari dinas militer.
Namun, kebijakan tersebut kini menuai kritik luas, terutama di tengah kekurangan personel militer akibat konflik berkepanjangan.
Tekanan politik terhadap Netanyahu terus meningkat. Oposisi mendesak pemerintah memperluas wajib militer, sementara partai-partai ultra-Ortodoks yang menjadi mitra koalisi mengancam menarik dukungan jika aturan itu disahkan.
Saat ini, koalisi pemerintahan Netanyahu berada dalam posisi rapuh setelah kehilangan mayoritas solid di parlemen.
Situasi tersebut memunculkan spekulasi bahwa stabilitas pemerintahan Israel terancam di tengah tekanan keamanan dan gejolak politik yang terus berlanjut. ***






