Final Big Air Bentrok, Gu Ailing Kecewa di Olimpiade Musim Dingin

Azka Fachri
Gu Ailing usai lolos final big air Olimpiade Milan-Cortina dengan ekspresi serius di tengah sorotan jadwal kontroversial FIS.
Gu Ailing usai lolos final big air Olimpiade Milan-Cortina dengan ekspresi serius di tengah sorotan jadwal kontroversial FIS.

Rubrik.co.id – Atlet freestyle ski andalan China, Gu Ailing, meluapkan kekecewaan usai memastikan tiket final big air putri di Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina.

Kekecewaan tersebut diarahkan kepada International Ski and Snowboard Federation yang dinilai menyusun jadwal tidak proporsional bagi atlet multi-nomor.

Gu menyoroti jadwal final big air yang sepenuhnya bertabrakan dengan sesi latihan halfpipe selama tiga jam penuh.

Situasi tersebut disebut Gu bukan kali pertama terjadi karena pengalaman serupa juga dialaminya pada Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022.

Gu menjadi satu-satunya atlet freestyle ski putri di Livigno yang turun di tiga nomor park & pipe, yakni big air, slopestyle, dan halfpipe.

Ia mengungkapkan telah mengajukan solusi kepada FIS, termasuk latihan halfpipe secara terpisah agar tetap mendapat porsi latihan setara dengan atlet lain.

Jadwal Dinilai Tidak Setara Atlet

Gu menilai sistem tersebut menciptakan ketimpangan karena atlet lain memperoleh sembilan jam latihan penuh, sementara dirinya kehilangan waktu persiapan.

Menurut Gu, kondisi ini justru menghukum atlet yang berani mengambil tantangan lebih besar dengan tampil di tiga nomor sekaligus.

Ia menegaskan bahwa big air dan slopestyle membutuhkan pendekatan teknis berbeda dibanding halfpipe sehingga latihan tidak bisa saling menggantikan.

Gu juga mengenang pengalamannya di Beijing 2022 ketika harus berpindah venue dengan terburu-buru hingga tidak sempat makan dengan layak.

Momen Gu menyantap pancake daun bawang di arena sempat viral di media sosial, namun ia menyebut sedikit orang memahami tekanan jadwal di balik kejadian tersebut.

Sejak Desember lalu, Gu mengakui menghentikan latihan halfpipe demi fokus pada slopestyle dan bahkan tiba di Livigno tanpa persiapan khusus untuk big air.

Ia menyatakan rasa bangga tetap bisa tampil di tiga nomor pada dua Olimpiade, meski tantangan fisik dan mentalnya sangat besar.

Gu menegaskan kekecewaannya bukan bersifat emosional semata, melainkan kritik terhadap sistem yang dinilai tidak menghargai pencapaian atlet.