Daerah  

Titik Buang Sampah Liar di Bulukumba

Redaksi Rubrik
Aliran air kecil di antara tebing bervegetasi yang tertutup rapat oleh sampah plastik, kardus, dan kantong kresek, dengan teks judul "Sampah yang Dibuang Liar" dan label Rubrik.co.id - Lingkungan di bagian atas gambar
Ilustrasi aliran air yang tertutup sampah plastik, diambil di Bali, bukan di Bulukumba. Foto: DayakSibiriak / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0, diberi teks judul oleh Rubrik.co.id

Ringkasan

  • Tumpukan liar muncul di tempat yang itu-itu saja, yakni tepi jalan, pinggir kali, dan belakang pasar kota.
  • Papan larangan dan kamera pengawas terbukti tidak cukup, sebab pembuangan justru dilakukan ketika hari sudah gelap.
  • Tanpa petugas yang datang, pembersihan jatuh ke tangan kepala desa dan warga, kerap dengan cara dibakar di tempat.

BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Persoalan sampah di Bulukumba terkonsentrasi pada pembuangan liar di titik yang berulang, yaitu Jembatan Kirasa di batas Palambarae dan Taccorong, tepi Sungai Bialo, pintu belakang Pasar Sentral, dan ruas jalan dekat kampus di Taccorong. Larangan tertulis dan CCTV sudah dipasang tetapi diabaikan. Artikel ini memuat titiknya, polanya, dan penanganan yang ada.

Jembatan Kirasa dan Spanduk Sindiran

Titik yang paling terkenal berada di Jembatan Kirasa, batas Desa Palambarae dan Desa Taccorong, Kecamatan Gantarang.

Warga yang jengkel akhirnya memasang spanduk bernada sindiran bertuliskan larangan membuang sampah di area itu kecuali bagi monyet. Spanduk itu dipasang pada Agustus 2025.

Tiga pekan kemudian keadaannya belum berubah. Sampah masih ditemukan di sekitar jembatan yang sama.

Menurut warga setempat, pembuangan jarang terjadi pada siang hari. Pelakunya datang dari luar Kirasa setelah malam larut.

Pintu Belakang Pasar Sentral

Titik kedua ada di dalam kota, yakni Pasar Sentral Bulukumba. Tumpukan hampir setiap hari terlihat di pintu masuk bagian belakang.

Di lokasi itu sudah terpasang spanduk larangan membuang sampah sekaligus pemberitahuan bahwa area diawasi kamera. Pada Agustus 2025, pengunjung pasar tetap mengeluhkan bau dan lalat dari tumpukan di sana.

Tepi Sungai sebagai Tempat Buangan

Pola yang sama sudah lama berlangsung di tepi sungai. Pada Maret 2023, pinggiran Sungai Bialo di Desa Bialo dilaporkan menjadi tempat pembuangan sampah dengan tumpukan tersebar di beberapa titik.

Sungai Kirasa juga disebut menerima buangan serupa. Keduanya berada di Kecamatan Gantarang, dan keduanya bermuara ke laut.

Tekanan lain terhadap aliran sungai di kecamatan ini dimuat terpisah dalam catatan tentang Sungai Bialo.

Pembersihan yang Jatuh ke Tangan Desa

Ketika tumpukan tidak kunjung diangkut, yang turun adalah perangkat desa. Pada September 2025, Kepala Desa Taccorong, Jamri, membersihkan sendiri tumpukan di tepi jalan dekat kampus STIKES Panrita Husada.

Sampah yang terkumpul dibakar di tempat. Cara itu memang menghilangkan tumpukannya, tetapi memindahkan persoalannya ke udara, bukan menyelesaikannya.

Armada yang Ada

Penambahan sarana pernah terjadi. Pada Juli 2025, Pemkab Bulukumba menerima bantuan 26 unit motor sampah.

Bantuannya datang dari Real Estate Indonesia Sulsel beserta sejumlah pengembang dan koperasi, diserahkan dalam rapat monitoring dan evaluasi yang difasilitasi Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan.

Motor sampah menjangkau gang sempit yang tidak bisa dimasuki truk, sehingga penambahan itu menyasar persoalan yang nyata.

Yang Belum Pernah Diumumkan

Tiga angka dasar tidak tersedia dalam pemberitaan mana pun yang bisa dirujuk. Berapa ton sampah yang dihasilkan Bulukumba setiap hari, berapa persen yang terangkut ke tempat pemrosesan akhir, dan berapa desa yang sudah punya layanan pengangkutan rutin.

Tanpa ketiganya, titik-titik buangan liar di atas hanya bisa dibaca sebagai gejala. Apakah penyebabnya kesadaran warga atau jangkauan layanan yang belum sampai, belum bisa dipastikan dari sini. ***

Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.