Viral Foto Presiden Venezuela Ditangkap Militer AS

Azka Fachri
Nicolás Maduro
Nicolás Maduro. Foto ist

Rubrik.co.id – Foto-foto yang diklaim memperlihatkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro tengah ditangkap militer Amerika Serikat ramai beredar di media sosial, khususnya Facebook.

Dalam sejumlah gambar yang viral tersebut, Maduro terlihat berada di antara dua tentara AS dengan pengawalan ketat.

Ia masih tampak mengenakan setelan kemeja rapi, memicu perbincangan luas dan spekulasi publik internasional.

Viralnya foto-foto tersebut terjadi di tengah klaim kontroversial Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut militer AS telah melancarkan serangan besar-besaran ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolás Maduro.

Situasi politik Venezuela pun mendadak berada di titik didih. Klaim yang berpotensi memicu krisis internasional itu disampaikan Trump pada Sabtu (3/1/2026) waktu setempat melalui platform Truth Social.

“Amerika Serikat telah berhasil melaksanakan serangan berskala besar terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolas Maduro, yang bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara tersebut,” tulis Trump tanpa menyertakan bukti apa pun.

Presiden Maduro Dibawa Keluar Venezuela

Menurut laporan Reuters, Trump juga mengklaim Maduro telah dibawa keluar dari wilayah Venezuela.

Hingga berita ini diturunkan, pemerintah di Caracas belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait kebenaran foto-foto yang beredar maupun klaim penangkapan tersebut.

Meski demikian, laporan mengenai ledakan yang mengguncang ibu kota Caracas dan sejumlah wilayah lain memperkuat spekulasi bahwa operasi militer memang tengah berlangsung.

Sejumlah saksi mata menyebutkan helikopter terlihat melintas di atas kepulan asap pada Sabtu pagi waktu setempat.

Jika klaim Trump terbukti, peristiwa ini berpotensi menjadi intervensi langsung Amerika Serikat paling agresif di Amerika Latin sejak invasi Panama pada 1989 yang menggulingkan Presiden Manuel Noriega.

Langkah tersebut dinilai berisiko menyeret kawasan ke dalam konflik terbuka berskala luas.

Ketegangan antara Washington dan Caracas sendiri telah meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Pemerintahan Trump berulang kali menuding Presiden Maduro mengelola “negara narkoba” dan memanipulasi pemilu.

Tuduhan itu dibantah keras oleh Maduro, yang menilai Amerika Serikat menggunakan isu narkotika sebagai dalih untuk menguasai cadangan minyak Venezuela, yang terbesar di dunia.

Ironisnya, hanya sehari sebelum klaim penangkapan itu mencuat, Maduro menyatakan kesediaannya membuka dialog dengan Amerika Serikat.

Dalam wawancara dengan televisi pemerintah yang dikutip BBC News, Maduro menyebut pembicaraan terkait narkoba dan minyak bisa dilakukan “di mana pun dan kapan pun”.

Saat ditanya soal laporan serangan AS terhadap fasilitas dermaga, Maduro memilih tidak memberikan jawaban tegas dan menyatakan isu tersebut dapat dibahas “beberapa hari ke depan”.

BBC News juga melaporkan peningkatan signifikan operasi militer Amerika Serikat di kawasan Karibia dan Pasifik timur selama tiga bulan terakhir dengan dalih perang melawan narkoba.

Militer AS mengklaim telah melancarkan lebih dari 30 serangan terhadap kapal yang dituding membawa narkotika, dengan jumlah korban tewas dilaporkan melampaui 110 orang.

Serangan terbaru pada Rabu lalu disebut menewaskan lima orang. Di sisi lain, Trump diketahui menggandakan hadiah bagi informasi yang mengarah pada penangkapan Maduro serta menyiapkan langkah untuk menetapkan pemerintah Venezuela sebagai Foreign Terrorist Organisation (FTO).

Pemerintah Venezuela menilai tuduhan tersebut sebagai bentuk kriminalisasi politik.

Sejumlah pakar kontra-narkotika internasional justru menyebut peran Venezuela dalam perdagangan narkoba global relatif kecil dan lebih berfungsi sebagai negara transit. ***