RUBRIK.co.id, BULUKUMBA- Bentuknya hampir mirip dengan lontong cuma agak pipih dan dimasak dengan cara tersendiri. Burasa dan Legese merupakan makanan wajib bagi masyarakat Bulukumba Sulawesi Selatan pada hari lebaran yang bisanya tersaji bersama coto, dan ayam kari
Burasa dan Legese adalah salah dua panganan khas masyarakat Bugis Bulukumba di Sulawesi Selatan.
Memasak Burasa dan Legese sudah menjadi tradisi bagi suku Bugis di Bumi Panrita Lopi (Bulukumba) makanan khas Itu yang biasa disediakan jika acara-acara besar bersama keluarga tiba dan Hari Lebaran seperti Idul Fitri dan Idul Adha, pakanan memiliki aroma yang khas dengan keharumannya.
Jika dilihat sepintas, Buras sangat mirip dengan kue basah khas Suku Jawa, Lemper. Namun, yang membedakan dua makanan itu dari bahan dasarnya. Sedangkan Legese mirip dengan makan lontong yang bahan dasarnya adalah beras dan air santang.
Buras dan Leges terbuat dari beras, namun legese sendiri memiliki dua warna yakni putih dan hitam untuk warna hitam Legese sendiri terbuat dari beras hitam. Kedua makanan khas suku Bugis ini dibungkus menggunakan daung pisang muda.
Buras sendiri, oleh sejumlah orang-orang Suku Bugis memakannya dengan beberapa campuran makanan lainnya seperti parutan kelapa yang ditelah di olah sedemikian rupa dengan mencampurkan ikan asing.
Bukan hanya itu dua makanan khas ini bisa juga dimakan dengan kari ayam, daging coto maupun konro. campuran makanan ini harus wajib disediakan menemani Buras saat hari raya idul Fitri dan idul adha serta hajatan lainya.
“Burasa dan Legese ini sudah menjadi makanan turun temurun suku Bugis, dan sudah menjadi kewajiban karena merupakan tradisi nenek kita terdahulu kami di tanah kelahiran kampung Bugis Bulukumba”kata Harmiati warga Desa Bontonyeleng kecamatan Gantarang kabupaten Bulukumba Jumat malam 23 Mei 2020 saat ditemui sedang membuat dua jenis makanan tersebut.
” Tradisi membuat buras dan legese di Bulukumba sampai saat ini kami sebagai anak dan cucu mengikuti tradisi ini” katanya.
Dua hari sebelum hari Raya Idul Fitri dan Idul adha makanan ini sudah di buat oleh hampir semua warga yang ada di Bulukumba terkhusus warga suku Bugis.
Bahkan makanan ini juga bisa bertahan sampai tiga empat hari untuk dikonsumsi masyarakat suku Bugis yang ada di Bulukumba.
Bukan hanya di Bulukumba bahkan hampir semua kabupaten di Sulawesi Selatan akan di temukan makanan ini pada saat perayaan keagaman Ummat islam. (**)






