Rubrik.co.id – Media pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam Iran.
Khamenei dilaporkan wafat di kantornya, sekaligus mengakhiri kepemimpinannya yang telah berlangsung sejak 1989.
Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari atas wafatnya tokoh yang mereka sebut sebagai syahid.
Konfirmasi resmi ini muncul setelah sebelumnya kantor berita Tasnim dan Mehr sempat melaporkan Khamenei masih mengendalikan situasi di tengah serangan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump lebih dulu mengumumkan kematian Khamenei melalui akun Truth Social miliknya.
Trump menyatakan operasi militer dilakukan dengan dukungan intelijen canggih dan koordinasi erat bersama Israel.
Ia juga menilai situasi tersebut membuka peluang bagi rakyat Iran untuk mengambil alih arah masa depan negaranya.
Dampak Kematian Pemimpin Iran
Kematian Khamenei memicu ketidakpastian baru dalam konflik yang telah memanas antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya mengklaim terdapat indikasi kuat bahwa Khamenei telah gugur dalam serangan.
Laporan kantor berita Reuters menyebut seorang pejabat senior Israel mengonfirmasi jasad Khamenei telah ditemukan.
Khamenei dikenal memiliki kewenangan tertinggi atas pemerintahan, militer, dan lembaga yudisial Iran, sekaligus menjadi pemimpin spiritual negara tersebut.
Pengamat dari Stimson Center di Washington, Barbara Slavin, menilai Iran telah memiliki skema transisi kekuasaan yang siap dijalankan.
Menurutnya, sebuah dewan kolektif kemungkinan telah atau akan segera mengambil alih kepemimpinan negara.
Serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu menargetkan 24 provinsi Iran dan menewaskan sedikitnya 201 orang berdasarkan laporan Bulan Sabit Merah Iran.
Serangan tersebut juga menghantam fasilitas sipil, termasuk dua sekolah, yang menewaskan puluhan anak dan warga sipil.
Trump menegaskan serangan udara intensif akan terus berlanjut selama dianggap perlu.
Iran merespons dengan serangan balasan rudal dan drone ke posisi Amerika Serikat dan Israel, memicu siaga pertahanan udara di kawasan Teluk.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan penghentian segera permusuhan dan memperingatkan risiko eskalasi tak terkendali.
Iran melalui perwakilannya di PBB menuduh serangan tersebut sebagai agresi terencana dan kejahatan kemanusiaan.
Amerika Serikat bersikeras aksi militer dilakukan untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir, sementara Rusia dan China mengecam keras operasi militer tersebut. ***






