Gorengan Cikas Bulukumba: Antrean yang Tak Bubar Sejak 2019

redaksi
Keranjang kawat berisi tumpukan bakwan, pisang goreng, dan aneka gorengan lain di gerobak penjual gorengan pinggir jalan
Ilustrasi lapak gorengan pinggir jalan. Foto: Sakurai Midori / Wikimedia Commons, CC BY 3.0

Rubrik.co.id – Hampir tujuh tahun sejak pertama kali dibuka, gorengan Cikas di Bulukumba masih punya pemandangan yang sama: kendaraan menepi di Jalan Muhammad Hatta, orang-orang turun, lalu ikut antre di depan warung yang tidak pernah kelihatan sepi. Yang berubah justru ukuran ceritanya — dari warung pinggir jalan menjadi salah satu nama kuliner paling dikenal di Sulawesi Selatan, lengkap dengan ratusan ribu pengikut di TikTok.

Warung ini berdiri di depan kantor Kelurahan Tanah Kongkong, Kecamatan Ujung Bulu, tidak jauh dari taman kota Bulukumba. Pemiliknya, Eril — yang kemudian lebih dikenal sebagai Eril Cikas — kelahiran Bulukumba, 8 Oktober 1995. Nama “Cikas” sendiri diambil dari nama panggilannya, dan kini melekat bukan hanya pada warungnya, tapi juga pada juru bicara tak resminya di dunia maya: akun-akun TikTok yang tiap hari menyiarkan hiruk-pikuk penggorengan itu.

Dari warkop yang kalah ramai oleh gorengannya sendiri

Sebelum menggoreng, Eril berjualan kopi dan telepon seluler bekas di tempat yang sama. Awal 2019, dia iseng menambah dagangan gorengan kecil-kecilan di depan warkopnya — terinspirasi usaha gorengan “94” milik neneknya di Jalan Sunu, Makassar. Hari pertama langsung ramai. Hari ketiga pembeli sudah antre, dan warkopnya justru tidak terurus.

Dengan modal awal Rp3 juta dan dibantu ibunya, Eril akhirnya menyerah pada kenyataan: gorengannya lebih laku daripada kopinya. Setahun kemudian dia sudah mempekerjakan enam karyawan dengan omzet Rp4–6 juta per hari — kisah yang pernah ditulis Rubrik.co.id pada awal 2020, saat antrean di depan warungnya mulai jadi tontonan tersendiri.

Yang membuat orang rela antre

Menu yang dijual sebenarnya tidak aneh-aneh: tahu, bakwan, pisang, ubi, sukun, dan belakangan bertambah tempura, sosis, sampai otak-otak. Yang membedakan adalah ukurannya yang lebih besar dari gorengan kebanyakan, harga yang tetap ramah, dan cara membelinya — pembeli cukup menyebut nominal, “campur dua puluh ribu”, lalu pelayan yang meracik isinya.

Antreannya bukan antrean jam pulang kantor yang bubar sebelum magrib. Dari berbagai unggahan pengunjung, mendekati pukul sembilan malam pun masih ada yang berdiri menunggu giliran. Tiga penggorengan besar bekerja hampir tanpa jeda; sehari warung ini bisa menghabiskan ratusan sisir pisang dan puluhan buah sukun.

Tabungan Rp167 juta di dalam ember

Nama Eril Cikas melompat dari pemberitaan lokal ke nasional pada September 2021, ketika dia membongkar ember tempatnya menabung selama sebelas bulan. Isinya Rp167 juta, seluruhnya dari laba gorengan. Saat itu omzet warungnya disebut sudah mencapai Rp8–10 juta per hari dengan laba bersih sekitar Rp1,5 juta.

Video pembongkaran ember itu diberitakan media-media nasional, dan Wakil Bupati Bulukumba sampai datang sendiri mencicipi gorengannya. Bagi banyak orang, di situlah “gorengan Cikas Bulukumba” berhenti menjadi sekadar nama warung dan mulai menjadi kisah — anak muda putus kuliah yang membuktikan bahwa gorengan pinggir jalan bisa menghidupi banyak orang.

Pajo, karyawan yang ikut jadi bintang

Belakangan, pencarian tentang warung ini sering menyertakan satu nama lain: Pajo. Banyak yang mengira dia saudara kandung Eril. Bukan — Pajo adalah karyawan Gorengan Cikas yang wajahnya paling sering muncul di konten TikTok warung itu, dari akun pribadi Eril sampai akun resmi Gorengan Cikas.

Tingkah Pajo dan Eril di depan kamera — saling jahil, saling omel, lalu akur lagi — kerap disamakan penonton dengan Tom dan Jerry, dan justru itu yang membuat kontennya ditonton jutaan kali. Ulang tahun Pajo pun dirayakan lewat unggahan akun warung. Di titik ini, Gorengan Cikas bukan lagi sekadar tempat membeli bakwan; dia sudah menjadi tontonan harian dengan pemeran tetapnya sendiri.

Pernah tersandung, pernah melapor

Perjalanan Eril tidak selalu mulus. Julukan “si pencari sendok” lahir dari video lamanya yang viral, dan nama itu pula yang dia pakai sampai sekarang di TikTok. Namun akhir 2021, sebuah video siaran langsungnya menyinggung kaum perempuan dan berujung ramai — Eril kemudian meminta maaf secara terbuka, dan perkara yang sempat ditangani polisi itu selesai secara damai.

Setahun berselang posisinya berbalik: giliran Eril yang datang ke Polres Bulukumba sebagai pelapor, mengadukan akun Facebook yang menyebarkan kabar bohong soal dirinya. Dua urusan itu sama-sama selesai tanpa mengubah satu hal: antrean di depan warungnya tidak pernah ikut bubar.

Warung kecil yang tahu cara bertahan

Resep bertahannya sebenarnya sudah pernah diucapkan Eril sendiri sejak 2020: terus berinovasi, jujur, dan memberi yang terbaik untuk pelanggan. Yang tidak dia sebut waktu itu — dan terbukti belakangan — adalah kemampuannya membaca zaman: ketika pembeli pindah ke layar telepon, warungnya ikut pindah ke sana lebih dulu daripada kebanyakan warung gorengan mana pun.

Tujuh tahun adalah umur yang panjang untuk usaha yang dimulai dari niat iseng dengan modal Rp3 juta. Selama minyak di tiga penggorengan itu masih panas dan Pajo masih betah diomeli di depan kamera, tampaknya antrean di Jalan Muhammad Hatta masih akan jadi pemandangan tetap kota Bulukumba.