Daerah  

Bendungan Induk Bontonyeleng dan Sedimentasinya

Redaksi Rubrik
Air melimpas deras di atas mercu bendung irigasi berdinding batu dengan rimbun pepohonan tropis di belakangnya, dengan teks judul "Bendungan Induk Bontonyeleng" dan label Rubrik.co.id - Gantarang di bagian atas gambar
Ilustrasi bendung irigasi di Haruyan Dayak, Kalimantan Selatan, bukan Bendungan Induk Bontonyeleng. Foto: Tim WikiBanua 2.0 / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0, diberi teks judul oleh Rubrik.co.id

Ringkasan

  • Bangunan pengambil air ini memasok irigasi dua desa bertetangga, dan letaknya justru berada di desa ketiga.
  • Endapan material terbawa setiap kali sungainya meluap, lalu menyumbat jalan masuk air menuju hamparan sawah milik warga dua desa.
  • Pengerukannya pada pertengahan 2025 dikerjakan memakai cangkul dan tangan selama sepekan, tanpa satu pun kendaraan berat.

BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Bendungan Induk Bontonyeleng adalah bangunan irigasi di Desa Bukit Harapan, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, yang mengairi sawah di Desa Bontonyeleng dan Desa Palambarae. Masalah utamanya sedimentasi: pasir, kerikil, batu, dan sampah menimbun pintu airnya setiap kali sungai meluap. Artikel ini memuat lokasinya, riwayat pengerukan Juli 2025, dan perselisihan yang menyertainya.

Lokasi dan Wilayah yang Diairi

Bendungan induk ini berada di Desa Bukit Harapan, satu dari 18 desa di Kecamatan Gantarang. Pintu airnya memasok irigasi ke dua desa lain, yakni Bontonyeleng dan Palambarae.

Nama sungainya tercatat berbeda di laporan yang berbeda. Pemberitaan Rubrik.co.id pada Juli 2025 menyebut lokasinya di Sungai Bijawang, sementara laporan lain pada pekan yang sama menyebut muara Sungai Bontonyeleng.

Letak bendungan di desa ketiga itu menjelaskan kenapa koordinasi antarpemerintah desa menjadi bagian dari urusannya, bukan hanya pekerjaan teknis.

Sedimentasi yang Menutup Pintu Air

Awal Juli 2025, air di sungai itu meluap. Aliran irigasi induk menuju Bontonyeleng dan Palambarae lalu tertimbun pasir, sampah, dan bebatuan tepat di pintu induknya.

Dampaknya langsung terasa di sawah. Stok air berkurang dan ribuan petani di dua desa terancam gagal panen karena kekurangan air untuk persawahan.

Kepala Desa Bontonyeleng, Andi Mauragawali, lalu berkoordinasi dengan Kepala Desa Palambarae untuk meminta petani bekerja bakti bersama membersihkan endapan yang menutup pintu air.

Kerja Bakti Manual Tanpa Alat Berat

Pengerukan dimulai pada 8 Juli 2025 dan dikerjakan ratusan petani tanpa satu pun alat berat. Tidak ada ekskavator di lokasi.

Peralatannya cangkul dan tangan, dipakai untuk mengangkat sampah, kerikil, pasir, dan batu dari badan sungai. Sebagian batunya berukuran besar.

Di antara barisan pengeruk itu ada seorang petani perempuan berusia 50 tahun dari Dusun Topaleo, Desa Bontonyeleng, yang juga bekerja sebagai petugas kebersihan di kantor desanya. Sosoknya tercatat ikut mengangkat batu dari air sungai tanpa alat bantu.

Keikutsertaan TNI dan Polri

Sehari berikutnya pekerjaan berlanjut, dan pesertanya bertambah. Anggota Kodim 1411 dan Polres Bulukumba yang bertugas sebagai Babinsa serta Bhabinkamtibmas di tiga desa turun bersama warga ke sungai.

Pada hari itu jumlah pesertanya tidak seimbang. Ratusan petani datang dari Bontonyeleng, sementara dari Palambarae hanya lima orang.

Perselisihan Dua Desa soal Kerja Bakti

Ketidakseimbangan itu memicu teguran keras. Pada 10 Juli 2025, Kepala Desa Bontonyeleng mengancam menutup pintu air ke irigasi desa tetangga bila kerja bakti lanjutan tetap tidak diikuti petani Palambarae.

Alasannya, tidak satu pun kepala dusun dari Palambarae hadir pada hari-hari sebelumnya, padahal mereka yang semestinya mengoordinasi warganya.

Ancaman itu memperlihatkan posisi bendungan tersebut. Satu pintu air mengatur pasokan ke dua wilayah administratif berbeda, dan beban perawatannya tidak otomatis terbagi rata.

Pengerukan Selesai dalam Sepekan

Pada 13 Juli 2025, petani dari kedua desa menuntaskan kerja bakti pembersihan sedimentasi. Seluruh pasir, kerikil, batu, dan sampah di bendungan berhasil diangkat.

Satu anggota Bhabinkamtibmas Desa Bukit Harapan ikut turun ke sungai tanpa diperintah lebih dulu.

Riwayat ini relevan di luar tahun kejadiannya. Sedimentasi terbawa setiap kali sungai meluap, sehingga pekerjaan serupa berpeluang berulang. Pada Oktober 2026, program rehabilitasi irigasi di Sulawesi Selatan menyasar 54 ribu hektare lahan, tanpa rincian per kabupaten. ***