MAKASSAR, Rubrik.co.id – Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menyatakan rehabilitasi daerah irigasi yang melayani sekitar 54 ribu hektare sawah terus berjalan. Program itu bagian dari pekerjaan tahun jamak Pemerintah Provinsi Sulsel yang berlangsung sepanjang 2025 sampai 2027.
Rehabilitasi terbagi dalam empat paket pekerjaan dengan total nilai kontrak sekitar Rp500 miliar.
Target: dari Sekali Tanam Jadi Tiga Kali
Andi Sudirman menyebut sasaran utamanya bukan bangunan fisiknya, melainkan air yang sampai ke lahan.
“Infrastruktur irigasi ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi bagaimana air bisa sampai ke lahan-lahan pertanian dan mempercepat akselerasi produksi yang tadinya IP 100 menjadi IP 300,” katanya, sebagaimana dilaporkan Rakyat Sulsel.
Indeks Pertanaman 100 berarti lahan hanya bisa ditanami sekali setahun, sedangkan IP 300 berarti tiga kali tanam dalam setahun.
Pola yang sama sedang didorong di Bulukumba lewat program IP 300 di Kecamatan Ujung Loe, dengan sasaran lahan 850 hektare pada 2026.
Paket 4 di Wilayah Utara
Salah satu pekerjaan yang disorot berada pada Paket 4, mencakup daerah irigasi di Kabupaten Enrekang, Toraja Utara, Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur.
Paket itu bernilai sekitar Rp120 miliar dan mencakup delapan daerah irigasi.
Dua di antaranya adalah Daerah Irigasi Kuri-Kuri Kasambi di Luwu Utara yang melayani sekitar 887 hektare, dan Daerah Irigasi Lengkong Pini di Luwu dengan luas layanan sekitar 728 hektare.
Air sebagai Persoalan Provinsi
Ketersediaan air menjadi persoalan yang berulang di provinsi ini sepanjang 2026. Di sektor pertanian, kekeringan sempat memicu protes pembagian air irigasi, seperti dalam laporan sawah kering dua bulan di Duampanua, Pinrang.
Di sisi pasokan, Bendungan Bili-Bili menjadi penopang utama kebutuhan air di kawasan Mamminasata.
Di Bulukumba, kemarau membuat krisis air bersih menjangkau tujuh kecamatan, dengan kemarau diprediksi berlangsung sampai akhir November atau awal Desember 2026.
Yang Belum Terjawab dari Angka Ini
Rehabilitasi jaringan irigasi menyelesaikan persoalan distribusi, yaitu air yang bocor atau tidak sampai ke petak sawah.
Program ini tidak menambah volume air yang tersedia. Pada musim kemarau panjang, keterbatasannya tetap ada di sumber, bukan di salurannya.
Karena itu target IP 300 bergantung pada dua hal sekaligus: saluran yang berfungsi dan pasokan air yang cukup sepanjang tahun.
Pekerjaan tahun jamak ini dijadwalkan rampung pada 2027, sehingga dampaknya terhadap indeks pertanaman baru bisa diukur setelah seluruh paket selesai.
Rincian dua paket lain beserta daftar daerah irigasi yang dicakupnya belum dipublikasikan Pemprov Sulsel hingga berita ini diterbitkan. ***
