Ringkasan
- Alirannya melintas di wilayah barat kabupaten, lalu bertemu laut tidak jauh dari kawasan wisata di dalam kota.
- Tiga persoalan berulang tercatat sejak 2022, mulai dari luapan air, kerusakan jembatan, sampai penambangan tanpa izin.
- Keterangan resmi tentang panjang aliran, lokasi hulunya, dan luas wilayah tangkapan airnya sampai kini tidak pernah dipublikasikan terbuka.
BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Sungai Bialo adalah sungai di Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, yang muaranya berada sekitar satu kilometer dari Kolam Labuh Bentenge di Kecamatan Ujung Bulu. Pemberitaan Rubrik.co.id selama enam tahun terakhir menempatkan sungai ini pada tiga soal yang terus kembali: banjir saat hujan lebat, jembatan putus, dan tekanan tambang serta sampah di tepiannya. Artikel ini merangkum ketiganya.
Letak dan Muaranya
Sungai Bialo mengalir di Kecamatan Gantarang, kecamatan dengan 18 desa dan tiga kelurahan yang profilnya dimuat terpisah dalam profil Kecamatan Gantarang. Salah satu desa di jalurnya bernama sama dengan sungainya, yakni Desa Bialo.
Jarak muaranya ke pusat kota terungkap dari keterangan Dinas Perikanan Bulukumba pada September 2026. Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Bulukumba, Yusli Sandi, menyebut muara Sungai Bialo berjarak sekitar satu kilometer dari Kolam Labuh Bentenge di kawasan Pantai Merpati.
Keterangan itu muncul ketika seekor buaya diperkirakan sepanjang tiga meter terlihat di Kolam Labuh Bentenge. Yusli menjelaskan buaya muara mampu beradaptasi di perairan payau bahkan laut, sehingga kemunculannya di pesisir bukan hal aneh.
Luapan Juli 2025 dan 600 Rumah Terdampak
Hujan berintensitas tinggi pada Sabtu, 5 Juli 2025, membuat aliran Sungai Bialo meluap. Banjirnya tidak berhenti di Gantarang, melainkan masuk ke sejumlah wilayah Kecamatan Ujung Bulu.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bulukumba mencatat 600 rumah terdampak dan menyalurkan air bersih kepada warga. Alasannya bukan kekeringan, melainkan sumber air yang dipakai warga menjadi keruh setelah banjir.
Jembatan Bungeng dan Swadaya Warga
Luapan yang sama memutus Jembatan Bungeng di Desa Bialo. Kepala Desa Bialo, Miftahuddin, menyebut sekitar 500 warga terisolir karena akses jalurnya terputus.
Jembatan Bungeng bukan satu-satunya yang rusak. Dua jembatan lain dilaporkan putus pada hari itu, salah satunya di Desa Borong Loe.
Perbaikannya tidak menunggu anggaran. Sehari setelah jembatan putus, ratusan warga mengumpulkan dana secara swadaya untuk membeli semen, pasir, dan material lain, lalu membangun sendiri sambungan jembatannya.
Tambang Galian C dan Sampah di Tepian
Tekanan terhadap sungai ini juga datang dari dua arah lain. Pada Februari 2022, Unit Tindak Pidana Tertentu Satreskrim Polres Bulukumba menyatakan akan menertibkan tambang galian C tanpa izin di Sungai Bialo.
Kepala Unit Tipidter saat itu, Ipda Daniel Nainggolan, menyebut penegakan hukum bukan satu-satunya jalan keluar, karena tambang tanpa izin sudah menjadi persoalan lama di Bulukumba.
Setahun kemudian, pada Maret 2023, tepian Sungai Bialo di Desa Bialo dilaporkan dijadikan tempat pembuangan sampah. Tumpukannya tersebar di beberapa titik dan sudah berlangsung lama menurut keterangan warga setempat.
Yang Tidak Pernah Dipublikasikan
Satu hal perlu dicatat sebagai batas tulisan ini. Rubrik.co.id tidak menemukan dokumen resmi yang memuat panjang Sungai Bialo, titik hulunya, maupun luas daerah aliran sungainya.
Data sungai di Bulukumba umumnya disajikan sebagai angka agregat satu kabupaten, bukan per sungai. Lembaga yang memegang rinciannya adalah pengelola wilayah sungai di tingkat provinsi, dan rinciannya belum pernah diumumkan secara terbuka.
Karena itu keterangan soal kondisi hidrologis muaranya pun baru tersedia lewat penjelasan dinas ketika ada kejadian, bukan dari laporan berkala. ***
Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.
