Ringkasan
- Rumah ikan buatan sengaja ditaruh dekat pantai, berlawanan dengan kebiasaan nelayan yang memilih lokasi jauh dan dalam.
- Angka seribu pada nama programnya adalah target, dan jumlah terpasang yang pernah diumumkan masih jauh di bawahnya.
- Satu survei dinas pada 2024 mengukur kenaikan tangkapan kelompok penerima, bukan memperkirakannya dari asumsi di atas kertas.
BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Program 1.000 Rumpon adalah program Pemerintah Kabupaten Bulukumba yang menenggelamkan rumah ikan buatan di perairan dangkal dekat pesisir, bukan di laut dalam seperti kebiasaan lama. Logikanya memperbaiki ekosistem lebih dulu supaya ikan kembali mendekat, sehingga nelayan kecil tidak perlu melaut jauh. Artikel ini memuat cara kerjanya, tiga jenis rumponnya, dan hasil pengukuran dampaknya.
Pergeseran dari Rumpon Dalam ke Rumpon Dangkal
Program ini diluncurkan Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf pada Agustus 2024, dan sejak awal disebut tidak populer di kalangan nelayan.
Alasannya sederhana. Menurut Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Bulukumba, Yusli Sandi, rumpon yang disukai nelayan adalah rumpon dalam dengan panjang tali sekitar 1.000 sampai 2.000 meter.
Secara teknis kebiasaan itu justru menggerus kelimpahan ikan di perairan Bulukumba sendiri. Ikan pelagis seperti tuna punya pola migrasi tertentu, dan ketika banyak rumpon dipasang di perairan dalam, ikan bertahan di sana karena makanannya sudah tersedia.
Akibatnya ikan tidak lagi mendekat ke perairan dangkal. Karena itu rumpon bantuan program ini diperuntukkan untuk perairan Bulukumba, dan kelompok penerimanya menandatangani pakta integritas saat menerima bantuan.
Tiga Jenis Rumpon yang Dipakai
Dinas Perikanan merumuskan tiga konsep rumpon berdasarkan kajiannya sendiri, masing-masing dengan fungsi berbeda.
| Jenis | Fungsi utama |
|---|---|
| Rumpon permukaan | Mengumpulkan ikan dan memberi kepastian lokasi penangkapan |
| Rumpon layang | Tempat makan dan memijah, sekaligus memulihkan ekosistem |
| Rumpon dasar | Rumah ikan, menumbuhkan polip karang, tempat berlindung |
Rincian fungsi itu dimuat dalam penjelasan dinas pada Mei 2024.
Pohon Rumpon, Prototipe Pertama di Indonesia
Rumpon layang di Bulukumba dikembangkan menjadi bentuk yang disebut pohon rumpon, hasil riset Bapperida bersama Universitas Hasanuddin Makassar.
Peneliti Universitas Hasanuddin, M. Abduh Ibnu Hajar, menyebut prototipenya yang pertama di Indonesia dan Bulukumba daerah pertama yang menerapkannya.
Bentuknya tidak muncul ke permukaan air, sehingga tidak mengganggu pelayaran, tetapi tetap mengumpulkan ikan dari dasar hingga permukaan. Permukaannya menjadi tempat menempel perifiton, yang masuk ke rantai makanan dan membentuk ekosistem mikro.
Proyek percobaannya dipasang di lima titik, yakni satu titik masing-masing di Kecamatan Ujung Bulu, Bontotiro, dan Bontobahari, serta dua titik di Kecamatan Kajang. Tiap titik seluas satu sampai dua hektare dengan rata-rata 20 unit rumpon.
Hasil Survei Dampak Ekonomi 2024
Dinas Perikanan mengukur dampaknya lewat survei pada 1 sampai 20 Mei 2024, menyasar kelompok penerima bantuan periode 2021 sampai 2023. Dari 58 kelompok penerima, 40 kelompok berhasil diwawancarai atau 68,97 persen populasi sasaran.
Hasilnya, produksi penangkapan ikan rata-rata naik 40,24 persen.
| Rata-rata per trip | Sebelum bantuan | Sesudah bantuan |
|---|---|---|
| Hasil tangkapan | 2,6 ton | 3,7 ton |
| Nilai tangkapan | Rp44.731.250 | Rp63.628.875 |
Satu trip rata-rata berlangsung 15 hari, dan nilai itu memakai asumsi harga ikan Rp17.000 per kilogram. Selisihnya Rp18.897.625 per trip.
Jumlah yang Sudah Tersalur
Angka seribu pada nama program adalah targetnya, bukan jumlah terpasang. Pada November 2023, Dinas Perikanan menyebut rumpon yang sudah tersalurkan mencapai 293 unit.
Penyerahannya bertahap. Pada November 2022 sebanyak 171 unit diserahkan ke 50 kelompok di Kelurahan Ela-Ela, lalu 123 unit ke 21 kelompok nelayan dari tujuh kecamatan pada November 2023.
Pada periode kedua pemerintahannya, bupati meminta bantuan rumpon diprioritaskan bagi keluarga nelayan pesisir kategori miskin. Kelompok nelayan adalah syarat menerima bantuan, dan bagi yang belum punya, pemerintah daerah membantu membentuknya.
Apartemen Ikan sebagai Pelengkap
Pada September 2026, Dinas Perikanan mulai menurunkan apartemen ikan ke dasar laut. Unitnya berbentuk kubus beton berukuran satu kali satu meter, dimuat lebih dulu ke kapal di Pelabuhan Leppe’e.
Pemerintah kabupaten menyebut program itu melengkapi pengadaan rumpon yang sudah berjalan, bukan menggantikannya.
Satu catatan dari dinas sendiri perlu diingat saat menilai hasilnya. Rumpon layang dan rumpon dasar butuh waktu untuk bekerja, meski gerombolan ikan biasanya mulai muncul dalam tiga bulan berdasarkan pengalaman sebelumnya. ***
Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.
