Ringkasan
- Tiga jenis mamalia khas pulau ini pernah dipotret di wilayah kabupaten, dan berkasnya bisa diperiksa siapa pun.
- Satu di antaranya berubah status di mata petani, dari penghuni hutan menjadi pengganggu kebun di tepi sungai.
- Belum ada pendataan resmi yang pernah terbit, sehingga jumlah maupun sebarannya di kabupaten ini sama sekali tidak diketahui.
BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Tiga mamalia endemik Sulawesi terdokumentasi di Kabupaten Bulukumba lewat foto berlisensi bebas, yakni kuskus beruang, kuskus kerdil, dan monyet hitam Sulawesi. Di sisi lain, kawanan monyet dilaporkan merusak kebun warga di dua desa Kecamatan Gantarang sejak sekitar 2023. Artikel ini memuat jenis yang tercatat dan konflik yang menyertainya.
Tiga Jenis yang Terdokumentasi
Jejak satwa liar Bulukumba yang paling mudah diperiksa bukan berasal dari laporan dinas, melainkan dari berkas foto berlisensi bebas di Wikimedia Commons.
| Nama | Nama ilmiah | Lokasi foto |
|---|---|---|
| Kuskus beruang Sulawesi | Ailurops ursinus | Tahura Bontobahari |
| Kuskus kerdil | Strigocuscus celebensis | Tahura Bontobahari |
| Monyet hitam Sulawesi | Macaca maura | Kawasan Hutan Adat Ammatoa, Kajang |
Ketiganya hanya ada di Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya. Kuskus adalah mamalia berkantung, bukan primata, meski kebiasaannya memanjat membuatnya sering dikira demikian.
Dua kuskus itu dipotret di kawasan yang sama, yang dimuat terpisah dalam catatan Tahura Bontobahari. Monyet hitamnya dipotret di Kawasan Adat Ammatoa, yang punya aturan sendiri soal menjaga pohon dan makhluk hidup di dalamnya.
Monyet yang Berpindah ke Kebun
Satwa yang sama bisa berubah status. Pada 15 Juli 2025, warga dua desa di Kecamatan Gantarang mengeluhkan kawanan monyet yang merusak tanaman mereka dalam musyawarah desa.
Seorang warga Bontonyeleng, Dasir, menyebut jumlahnya meningkat tajam dalam dua tahun terakhir hingga mencapai ratusan ekor.
Tanaman yang dirusak beragam, mulai dari buah-buahan, sayur-mayur, cabai, ubi, cokelat, hingga padi, kopi, dan pisang. Kebun yang paling terdampak berada di sekitar Sungai Bijawang.
Kenapa Lokasinya Masuk Akal
Sungai Bijawang mengalir di kecamatan yang sama dengan bendungan induk yang dimuat dalam catatan Bendungan Induk Bontonyeleng.
Tepian sungai biasanya menjadi jalur pergerakan satwa karena menyediakan air dan tutupan pohon. Kebun yang berbatasan langsung dengan jalur itu paling mudah dimasuki.
Dalam musyawarah tersebut warga menyebut kerugiannya cukup besar, meski nilainya tidak dirinci.
Yang Tidak Tersedia
Tidak ada pendataan resmi satwa liar Bulukumba yang pernah diterbitkan dan bisa dirujuk. Jumlah, sebaran, maupun status perlindungan per jenis di kabupaten ini belum diumumkan.
Karena itu foto berlisensi bebas di atas berguna sebagai bukti keberadaan, tetapi tidak bisa dipakai menyimpulkan populasi. Satu foto hanya menunjukkan satu individu pernah ada di satu titik.
Belum ada pula keterangan dinas tentang penanganan konflik monyet dengan kebun warga, termasuk apakah jenis yang merusak itu sama dengan monyet hitam Sulawesi yang terdokumentasi di Kajang. ***
Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.
