Daerah  

Sulsel Catat 963 Temuan HIV hingga Juli, Makassar Terbanyak

Redaksi Rubrik
Pita merah raksasa simbol kepedulian AIDS terpasang di dinding beton sebuah gedung perkantoran melengkung bertingkat dengan jendela berderet
Pita merah simbol kepedulian HIV/AIDS (ilustrasi, foto di Amerika Serikat). Foto: U.S. Dept. of Housing and Urban Development (HUD) / Wikimedia Commons, Public domain

Rubrik.co.id – Temuan kasus baru HIV/AIDS di Sulawesi Selatan tercatat sekitar 963 kasus sepanjang Januari–Juli 2026, dengan Kota Makassar sebagai penyumbang terbanyak, yakni 445 kasus. Data itu dipaparkan dalam rapat koordinasi pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS tingkat provinsi di Hotel Travellers Phinisi, Makassar, pada Kamis, 17 September 2026, seperti dilaporkan Bonepos.com dan FAJAR Sulsel.

Rakor bertema “Menuju Ending AIDS 2030” itu dibuka Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Sulsel Ishak Iskandar mewakili Gubernur Andi Sudirman Sulaiman. Pesertanya para wakil bupati dan wakil wali kota selaku ketua pelaksana Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) kabupaten/kota, dinas kesehatan, PMI, hingga lembaga swadaya masyarakat.

Menurut data yang dipaparkan, temuan kasus baru di Sulsel terus menurun dalam tiga tahun terakhir: 2.660 kasus pada 2023, 2.486 kasus pada 2024, dan 1.939 kasus pada 2025.

Tangan bersarung lateks putih menyiapkan alat tes cepat di meja laboratorium, dengan rak tabung sampel bertutup merah, pipet, dan kotak jarum suntik sekali pakai
Meja kerja laboratorium pemeriksaan HIV dan sifilis (ilustrasi, bukan di Sulsel). Foto: Aliva Sahoo / Wikimedia Commons, CC BY 4.0

Makassar dan Gowa Teratas, Bulukumba Keempat

Dalam data yang sama, setelah Makassar, temuan terbanyak berada di Kabupaten Gowa dengan 74 kasus, disusul Kota Palopo 38 kasus, Kabupaten Bulukumba 34 kasus, Jeneponto 27 kasus, Luwu Timur 23 kasus, dan Bantaeng 20 kasus. Angka Palopo tercantum dalam keterangan Pemkot Makassar yang dimuat ANTARA, tetapi tidak disebut dalam laporan Bonepos.com.

Berdasarkan kelompok umur, temuan didominasi usia 25–49 tahun sekitar 58 persen, disusul usia 15–24 tahun sekitar 35 persen. Kelompok usia di bawah 15 tahun tercatat sekitar 1 persen.

Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham, yang juga mengikuti rakor, menyebut tingginya temuan di Makassar harus dijawab dengan langkah pencegahan dan edukasi.

“Angka ini tentu menjadi perhatian kita bersama. Karena itu pencegahan harus terus diperkuat. Edukasi kepada masyarakat juga penting agar informasi yang benar mengenai HIV-AIDS dapat dipahami dengan baik dan tidak menimbulkan stigma,” kata Aliyah, dikutip ANTARA.

Uji Coba Skrining di Sekolah

Wakil Bupati Barru Abustan A. Bintang meminta provinsi dan kabupaten/kota bekerja dengan pola yang sama. “Yang pertama, yang perlu kita lakukan hari ini, samakan dulu persepsi. Kalau provinsi kerjanya sendiri, kabupaten lain lagi, kota juga lain, kalau tidak seirama dan tidak satu langkah, susah kita,” ujarnya, dikutip FAJAR Sulsel.

Menurut Bonepos.com, salah satu tindak lanjut yang dibahas adalah sosialisasi dan uji coba pengambilan sampel di sekolah, dengan sasaran awal satu hingga dua sekolah di tiap kabupaten/kota. Pencegahan juga diarahkan lewat sosialisasi yang dipadukan dengan donor darah, skrining kesehatan, dan penyuluhan bahaya narkotika.

Bulukumba berada di urutan keempat dalam data tersebut. Rubrik.co.id pernah melaporkan 236 orang di Bulukumba menjalani pengobatan antiretroviral per Juni 2025. Penyuluhan narkotika di kalangan muda juga terus digelar, antara lain sosialisasi Polres Bulukumba kepada 164 mahasiswa baru.