Daerah  

Kekeringan Landa 13 Kecamatan di Wajo, BPBD Salurkan 303.000 Liter Air

redaksi
Rumah panggung beratap rumbia dan seng di tepi Danau Tempe dengan perahu biru bersandar di air
Permukiman di tepi Danau Tempe, Kabupaten Wajo (ilustrasi, bukan foto saat kekeringan 2026). Foto: Jorge Franganillo / Wikimedia Commons, CC BY 2.0

Rubrik.co.id – Kekeringan melanda 13 kecamatan di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Wajo telah menyalurkan 303.000 liter air bersih ke 43 desa dan kelurahan hingga Minggu, 13 September 2026, menurut data BPBD setempat, naik dari 84.000 liter yang tercatat pada Kamis, 10 September 2026.

Sebaran 13 kecamatan dengan 56 desa dan 17 kelurahan itu disampaikan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam rilis Jumat, 11 September 2026, yang dimuat Top-News dan KabarWajo. Wilayah terdampak antara lain Kecamatan Tempe, Tanasitolo, Majauleng, Pammana, Sabbangparu, Gilireng, Sajoanging, Pitumpanua, Maniangpajo, Penrang, Keera, dan Takkalalla.

Angka 303.000 liter berasal dari data Pusdalops PB BPBD Wajo yang dimuat SuaraCelebes. Distribusi itu menjangkau 10 kecamatan dengan penerima 3.147 kepala keluarga atau 9.685 jiwa.

Seorang warga bertopi duduk di bangku kayu di tepi Danau Tempe yang airnya dangkal, dengan pepohonan di belakangnya
Tepian Danau Tempe, Kabupaten Wajo (ilustrasi, bukan foto saat kekeringan 2026). Foto: Jorge Franganillo / Wikimedia Commons, CC BY 2.0

Sungai di Bawah Normal, Armada Terbatas

Koordinator Pusdalops PB BPBD Wajo Rismawan mengatakan kekeringan berlangsung sejak Jumat, 21 Agustus 2026, dipengaruhi El Nino yang membuat curah hujan rendah. Tinggi muka air Sungai Walannae dan sejumlah sungai lain berada di bawah normal, dimuat SuaraCelebes. Di Bendung Gerak Tempe, tinggi muka air hulu tercatat 4,1 meter dan hilir 2,6 meter, sedangkan kondisi normal 5,0 meter.

“Air yang kami distribusikan khusus untuk konsumsi atau air minum, bukan untuk mandi dan mencuci,” kata Rismawan. Ia menyebut keterbatasan armada sebagai kendala, sementara kebutuhan mendesak warga meliputi air bersih, tempat penampungan, dan sumber air.

Pada Minggu, 13 September 2026, Kepala Pelaksana BPBD Wajo Andi Hasanuddin menyebut distribusi hari itu memakai 15 mobil tangki ke 15 desa dan kelurahan di enam kecamatan, yakni Maniangpajo, Gilireng, Keera, Tempe, Majauleng, dan Sabbangparu, dengan sasaran 644 kepala keluarga atau 1.922 warga, dilaporkan BacaPesan. Penyaluran melibatkan PDAM, TNI-Polri, serta Satpol PP dan Damkar.

Sinjai dan Bulukumba Ikut Terdampak

Dalam rilis yang sama, BNPB mencatat kekeringan di Kabupaten Sinjai berdampak pada sekitar 314 hektare sawah di Kecamatan Sinjai Barat. Kebutuhan mendesak di sana meliputi pompa air, pipa distribusi dari sungai ke saluran irigasi, serta bahan bakar.

Di Bulukumba, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan mencatat 662,17 hektare areal pertanian terdampak kekurangan air pada periode 16–31 Agustus 2026, seperti diberitakan Rubrik.co.id sebelumnya. Untuk kebutuhan rumah tangga, BPBD dan Dinas Pemadam Kebakaran Bulukumba telah menyalurkan 70.000 liter air bersih kepada 127 kepala keluarga atau 441 jiwa di empat kecamatan hingga 6 September 2026, menurut Tribun-Timur.

Distribusi air bersih oleh BPBD Bulukumba juga pernah berlangsung hingga dini hari pada kemarau panjang 2023, seperti diberitakan Rubrik.co.id. BNPB mengimbau warga di wilayah terdampak memakai air bersih secara bijak dengan mendahulukan kebutuhan pokok.