Daerah  

Penurunan Angka Stunting di Bulukumba

Redaksi Rubrik
Gedung pusat kesehatan masyarakat bercat kuning dan hijau dengan papan nama besar di atas pintu utamanya dan tiang bendera di halaman depan, serta teks judul "Gedung Puskesmas" dan label Rubrik.co.id - Daerah di bagian atas gambar
Ilustrasi gedung pusat kesehatan masyarakat, diambil di Hampang, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, bukan di Bulukumba. Puskesmas dalam foto ini tidak berkaitan dengan angka yang dibahas. Foto: Wadaihangit / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0, diberi teks judul oleh Rubrik.co.id

Ringkasan

  • Angka 8,5 itu satuannya poin persentase, sehingga membacanya sebagai penurunan delapan setengah persen merupakan kekeliruan yang umum.
  • Seperempat anak di bawah lima tahun masih berada dalam kategori itu pada pengukuran terakhir yang tersedia.
  • Pemerintah desa ikut bergerak sendiri, antara lain dengan membagikan susu kepada perempuan hamil dan anak kecil.

BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Prevalensi stunting di Bulukumba turun dari 33,7 persen pada 2023 menjadi 25,2 persen pada 2024 menurut Survei Status Gizi Indonesia. Selisihnya 8,5 poin persentase, dan capaian itu dinilai sebagai penurunan terbesar kedua di Sulawesi Selatan untuk tahun tersebut.

Cara Membaca Angka 8,5

Angka ini sering dikutip sebagai turun 8,5 persen, dan pembacaan itu keliru.

Yang terjadi adalah prevalensinya bergerak dari 33,7 persen ke 25,2 persen. Selisih antara dua persentase itu disebut poin persentase, bukan persen.

Kalau dihitung sebagai penurunan relatif terhadap angka 2023, besarnya sekitar 25 persen, hampir tiga kali lipat dari angka yang biasa dikutip. Perhitungan itu dilakukan sendiri oleh Rubrik.co.id dari dua angka di atas, dan bukan angka resmi yang diterbitkan.

Perbedaan ini bukan soal kata-kata. Memakai satuan yang salah membuat besarnya perubahan terbaca jauh lebih kecil daripada kenyataannya.

Yang Tersisa Sesudah Penurunan

Sisi lain dari angka yang sama juga perlu dinyatakan. Prevalensi 25,2 persen berarti sekitar satu dari empat balita masih tercatat pendek pada pengukuran 2024.

Dengan kata lain, penurunan itu nyata, tetapi persoalannya belum selesai. Dua hal ini benar sekaligus dan tidak saling meniadakan.

Sumber angkanya adalah Survei Status Gizi Indonesia tahun 2024. Arsip pemberitaan tidak memuat angka untuk tahun sesudahnya, sehingga keadaan terkini tidak bisa dinyatakan dari tulisan ini.

Siapa yang Mengerjakan

Capaian itu terungkap dalam Penilaian Kinerja Aksi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting yang digelar Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan pada 27 Mei 2025.

Wakil Bupati Bulukumba, Andi Edy Manaf, mengikuti kegiatan itu secara virtual dalam kedudukannya sebagai Ketua Tim Percepatan Penanganan Stunting kabupaten.

Dua bulan kemudian, pada 27 Juli 2025, Bulukumba menerima empat penghargaan dalam rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional ke-32 di Lapangan Karebosi, Makassar. Satu di antaranya diberikan atas capaian angka penurunan stunting paling besar kedua pada 2024, sedangkan tiga lainnya atas dukungan pelaksanaan program Quick Wins. Acaranya dihadiri Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji.

Yang Dikerjakan di Tingkat Desa

Penanganannya tidak berhenti di kabupaten. Pada Agustus 2025, Pemerintah Desa Bontonyeleng di Kecamatan Gantarang membagikan bantuan susu formula kepada ibu hamil dan balita.

Kepala Desa Bontonyeleng, Andi Mauragawali, menyebut kegiatan itu kelanjutan program pemerintah pusat yang dijalankan di tingkat desa untuk menekan kejadian stunting di wilayahnya.

Ia juga meminta orang tua tidak berhenti pada bantuan tersebut, melainkan ikut memberi makanan bergizi kepada anaknya.

Yang Belum Tersedia

Angka prevalensi per kecamatan tidak tersedia dalam arsip pemberitaan. Padahal angka kabupaten menyembunyikan sebaran, dan wilayah dengan prevalensi tertinggi justru yang paling perlu diketahui.

Jumlah balita yang diukur dalam survei juga tidak dimuat, sehingga ketelitian angkanya tidak bisa dinilai dari tulisan ini.

Dua hal perlu diperiksa sendiri. Pertama, angka prevalensi untuk tahun sesudah 2024, yang menentukan apakah penurunannya berlanjut atau berbalik. Kedua, apakah pembagian susu di tingkat desa berjalan di desa lain atau hanya di beberapa tempat. Keduanya ada di Dinas Kesehatan dan Tim Percepatan Penanganan Stunting kabupaten. ***

Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.