Daerah  

Bambu di Bulukumba: Pemakaian dan Risikonya

Redaksi Rubrik
Rumpun bambu kuning tumbuh rapat di tepi sungai berdampingan dengan pepohonan lain, dengan petak sawah yang sudah dipanen di bagian depan, serta teks judul "Bambu di Tepi Sungai" dan label Rubrik.co.id - Lingkungan di bagian atas gambar
Ilustrasi rumpun bambu kuning di tepi sungai, diambil di pinggir Sungai Citanduy, Jawa, bukan di Bulukumba. Foto: kasman70 / Wikimedia Commons, CC BY 3.0, diberi teks judul oleh Rubrik.co.id

Ringkasan

  • Tumbuhnya memang di tepi sungai, dan di sanalah bahan ini paling sering diambil warga sekitar kampung sendiri.
  • Pemakaiannya berlapis-lapis, mulai dari pagar rumah, kerajinan tangan, sampai jalur darurat ketika sebuah jembatan putus diterjang banjir.
  • Penebangannya ternyata bukan pekerjaan ringan, dan satu warga pernah meninggal ketika batang yang dipotongnya terlempar balik.

BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Bambu di Bulukumba tumbuh di tepi sungai dan dipakai warga untuk pagar rumah, kerajinan, hingga tangga darurat saat jembatan putus akibat banjir. Penebangannya menyimpan risiko: seorang warga meninggal pada November 2024 saat batang yang ditebangnya roboh mengenai dirinya. Artikel ini memuat pemakaian dan risikonya.

Tumbuh di Tepi Sungai

Lokasi tumbuhnya menjelaskan banyak hal. Rumpun bambu yang disebut dalam pemberitaan berada di pinggir sungai, antara lain di Dusun Kampung Cina, Desa Balibo, Kecamatan Kindang.

Akar bambu yang rapat menahan tanah di tepian, sehingga rumpunnya kerap berada persis di batas antara kebun dan badan sungai.

Posisi itu pula yang membuat penebangannya berisiko, karena lahannya miring dan dekat air.

Dipakai untuk Pagar dan Kerajinan

Pemakaian paling umum berupa bahan bangunan ringan. Pada Agustus 2024, warga Desa Bontonyeleng membuat pagar rumah dari bambu menyambut peringatan kemerdekaan.

Pemakaian lainnya bernilai lebih tinggi. Pada Agustus 2020, seorang petani di desa yang sama mengolah bambu menjadi miniatur kapal.

Keduanya menunjukkan bambu dipakai sebagai bahan yang diambil sendiri dari sekitar kampung, bukan dibeli dari luar.

Jalan Darurat Saat Jembatan Putus

Pemakaian yang paling menunjukkan perannya justru muncul saat keadaan darurat. Pada Juli 2025, Jembatan Bungeng di Desa Bialo putus akibat banjir.

Ratusan warga Dusun Mattoangin lalu menyeberang lewat tangga darurat dari bambu, menuruni tebing ke dasar sungai lalu menaikinya kembali di seberang.

Latar kejadiannya dimuat terpisah dalam catatan Sungai Bialo Bulukumba, termasuk jumlah warga yang terisolir.

Pilihan bahannya masuk akal: ringan, ada di sekitar lokasi, dan bisa dipotong tanpa alat berat. Tetapi tangga setinggi puluhan meter dari bambu jelas bukan pengganti jembatan.

Risiko Saat Menebang

Pada 6 November 2024, seorang warga Desa Dampang meninggal saat menebang bambu di pinggir sungai di Desa Balibo, Kindang, sekitar pukul 07.00 Wita.

Menurut keterangan kepala dusun setempat, batang yang sudah terpotong mengenai korban hingga terlempar.

Dua hal membuat penebangan bambu berbeda dari menebang pohon biasa. Batangnya tumbuh berumpun dan saling mengait, sehingga arah robohnya sulit diperkirakan. Batangnya juga lentur, sehingga bisa membal saat terpotong.

Yang Belum Tercatat

Tiga hal tidak ada dalam pemberitaan maupun data yang bisa dirujuk: luas rumpun bambu di Bulukumba, jenis bambu yang tumbuh di sini, dan apakah ada yang membudidayakannya untuk dijual.

Bambu juga tidak muncul dalam daftar komoditas perkebunan rakyat kabupaten, yang dimuat dalam catatan produksi padi dan perkebunan.

Artinya bahan ini dipakai luas tetapi tidak terhitung di mana pun, sehingga perannya tidak terlihat dalam angka resmi. ***

Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.