Daerah  

Produksi Padi dan Perkebunan Bulukumba Data 2025

Redaksi Rubrik
Hamparan ladang dan pepohonan hijau di Bontotiro dengan sebuah pondok beratap seng di tengahnya, berlatar langit biru berawan tipis
Hamparan ladang di Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba. Foto: Kurniawan Maulana / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Padi adalah komoditas pangan terbesar Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, sedangkan kakao dan cengkeh memimpin di perkebunan rakyat. Per September 2026, dengan tahun data 2025, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan mencatat produksi padi 296.920 ton gabah kering panen, sementara Badan Pusat Statistik mencatat 208.030,20 ton gabah kering giling dengan satuan berbeda.

Angka Pemkab diambil dari dua berkas yang diterbitkan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan di Portal Open Data Kabupaten Bulukumba dan diunduh Rubrik.co.id pada 23 September 2026. Angka BPS diambil dari tabel statistik BPS Provinsi Sulawesi Selatan yang diperbarui pada 11 Agustus 2026.

Empat petani mengelilingi batang pohon kakao yang baru dipangkas, satu orang memegang mesin pemangkas dan satu lagi menahan cabang di atas
Ilustrasi petani kakao mempraktikkan pemangkasan pohon, bukan di Bulukumba. Foto diambil di Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Foto: USAID Indonesia / Wikimedia Commons, domain publik

Berapa Produksi Padi Bulukumba dan Kenapa Dua Angka Berbeda?

Berkas Dinas Pertanian mencatat luas tanam 45.757,58 hektare, luas panen 46.294,53 hektare, produksi 296.920 ton gabah kering panen, dan rata-rata 64,14 kuintal per hektare sepanjang Januari sampai Desember 2025. Berkas yang sama memuat deret tahun sebelumnya: luas panen 44.713,78 hektare dengan produksi 285.974,60 ton pada 2024, dan 44.750,40 hektare dengan 285.206,27 ton pada 2023.

BPS mencatat angka yang lebih kecil untuk tahun yang sama, yakni luas panen 39.832,79 hektare dan produktivitas 52,23 kuintal per hektare. Dua hal membuat angkanya tidak bisa langsung diperbandingkan: satuan produksinya berbeda, gabah kering panen versus gabah kering giling, dan luas panennya pun berbeda karena BPS memakai metode kerangka sampel area sedangkan dinas memakai laporan lapangan. Rubrik.co.id tidak menemukan keterangan resmi yang merujukkan kedua angka itu satu sama lain, sehingga keduanya ditulis apa adanya.

Gantarang menjadi kecamatan penghasil padi terbesar dengan luas panen 15.866,05 hektare dan produksi 112.181,27 ton, disusul Ujung Loe 7.806 hektare dan 54.171,23 ton, lalu Rilau Ale 6.539 hektare dan 37.593,42 ton. Di ujung lain, Bonto Bahari hanya mencatat 128 hektare luas panen. Sebaran wilayahnya dapat ditelusuri lewat daftar sepuluh kecamatan di Bulukumba.

Komoditas Perkebunan Rakyat Terbesar

Komoditas Luas areal 2025 (ha) Produksi 2025 Pekebun (KK)
Kakao 7.280 2.054.903 kg biji kering 11.048
Cengkeh 6.904 1.727.328 kg bunga kering 10.145
Kelapa dalam 5.622 3.015.341 kg kopra 8.364
Kelapa hibrida 4.431 2.417.757 kg kopra 5.609
Karet 3.453 2.402.188 kg lump 1.786
Kopi robusta 3.305,4 416.450 kg biji kering 10.688
Lada 1.447 158.232 kg lada kering 2.989
Pala 791 168.622 kg biji 1.457
Kopi arabika 676 116.362 kg biji kering 1.224
Jambu mete 681 983 kg biji 398

Sumber: Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bulukumba, berkas “Data Sementara Luas Areal, Produksi, Produktivitas dan Jumlah Petani Pemilik Lahan Tahunan Perkebunan Menurut Jenis Komoditi Tahun 2025”, hasil sinkronisasi kabupaten per 27 Januari 2026, diunduh dari Portal Open Data Kabupaten Bulukumba pada 23 September 2026. Berkasnya menandai diri sebagai data sementara. Luas areal adalah kondisi tahun 2025, mencakup tanaman belum menghasilkan, menghasilkan, serta rusak atau tua. Vanili dan kelapa genjah tidak dimasukkan ke tabel karena angka produksinya nol atau di bawah 200 kilogram.

Jambu mete menunjukkan angka yang mencolok: areal 681 hektare tetapi produksi hanya 983 kilogram, atau 2,16 kilogram per hektare. Berkas sumbernya tidak menjelaskan sebabnya, dan Rubrik.co.id tidak menambahkan dugaan apa pun atas angka itu.

Kakao, komoditas terluas, sempat menjadi persoalan harga bagi petani. Rubrik.co.id memberitakan penurunan harga biji kakao di Bulukumba pada Juli 2025 dan sebagian petani yang beralih menanam merica. Berkas perkebunan 2025 mencatat harga rata-rata kakao Rp90.500 per kilogram dan lada Rp119.000 per kilogram pada tahun laporan.

Neraca Beras dan Tekanan Kemarau

BPS Sulawesi Selatan juga menerbitkan hitungan konsumsi dan neraca. Untuk 2025, produksi beras Bulukumba tercatat 119.375,28 ton, konsumsi 50.539,68 ton, dan neraca surplus 68.835,60 ton. Ketiga angka itu diperbarui pada 11 Agustus 2026 dan berlaku untuk lingkup kabupaten, bukan per kecamatan.

Angka setahun penuh tidak memperlihatkan tekanan musiman yang dihadapi petani. Rubrik.co.id memberitakan 662 hektare sawah terdampak kemarau dan antrean bahan bakar pada September 2026, serta pengeboran sumur bor untuk sawah dan pasokan air ke Dannuang. Di tingkat provinsi, produksi padi Sulawesi Selatan naik 0,95 persen meski ada lahan puso.

Data jagung tingkat kabupaten tidak dimuat di halaman ini karena Portal Open Data Kabupaten Bulukumba tidak memuat berkas produksi jagung untuk tahun 2025 saat ditelusuri pada 23 September 2026, dan tabel BPS yang terbuka untuk umum hanya menyajikan jagung sampai tingkat provinsi.