Ringkasan
- Wujudnya bukan dinas baru, melainkan gabungan orang dari beberapa perangkat daerah yang disatukan untuk satu urusan.
- Pekerjaannya di kota, yakni menyisir parit yang mampat, bukan menangani luapan sungai di luar wilayah kota.
- Karena itu kabupaten tetap bisa berstatus siaga tertinggi walau regu ini bekerja, dan keduanya tidak bertentangan.
BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Jawaban langsung: Tim Kendali Banjir Bulukumba adalah gabungan beberapa organisasi perangkat daerah yang dibentuk Bupati Andi Muchtar Ali Yusuf pada awal masa pemerintahannya untuk membersihkan saluran drainase kota yang tersumbat. Tim ini bekerja tanpa anggaran APBD tersendiri dan dipimpin Andi Zulkifli Indrajaya. Artikel ini memuat cara kerjanya, batas tugasnya, dan hal yang berada di luar jangkauannya.
Dibentuk pada Awal Pemerintahan
Tim ini dibentuk Bupati Andi Muchtar Ali Yusuf bersama Wakil Bupati Andi Edy Manaf sejak awal masa jabatan mereka, lalu dinilai berhasil dalam 100 hari kerja.
Ketuanya, Andi Zulkifli Indrajaya, menyebut itu kali pertama semua perangkat daerah terkait berkolaborasi menyelesaikan satu persoalan bersama-sama.
Bentuknya bukan dinas baru. Anggotanya ditarik dari beberapa organisasi perangkat daerah dan disiagakan selama musim penghujan.
Pekerjaannya Menyisir Drainase
Isi pekerjaannya sangat spesifik: membersihkan saluran drainase yang tersumbat sedimen lumpur dan sampah, supaya air mengalir lancar ke hilir.
Pada Januari 2022, misalnya, tim turun membersihkan drainase di Jalan Rambutan, Kelurahan Loka, Kecamatan Ujung Bulu, setelah beberapa hari diguyur hujan.
Setahun berikutnya tim tetap bekerja selama Ramadan, sehingga jadwalnya mengikuti cuaca, bukan kalender kerja biasa.
Bekerja Tanpa Anggaran Sendiri
Hal yang paling sering disebut tentang tim ini adalah sumber dayanya. Pada September 2024, kinerjanya dinyatakan teruji meski tanpa memakai anggaran dari APBD.
Pola itu disebut sampai menjadi rujukan bagi daerah lain yang menghadapi persoalan serupa.
Sisi lain dari pola tanpa anggaran jarang dibahas: pekerjaannya bergantung pada kesediaan perangkat daerah mengerahkan orang dan alat, dan ketergantungan itu tidak tercatat dalam dokumen anggaran mana pun.
Genangan, Bukan Banjir
Pada Juni 2022, pemerintah kabupaten menyampaikan bahwa yang terjadi di sejumlah titik kota adalah genangan air, bukan banjir.
Humas tim, Rudy Ramlan, menyebut salah satu penyebab utamanya kebiasaan sebagian warga menjadikan saluran drainase sebagai tempat pembuangan sampah.
Temuan tim di lapangan menguatkan itu: sampah yang menutupi saluran membuat air meluap ke jalan. Pola yang sama muncul di titik-titik buang sampah liar di luar kota.
Yang Berada di Luar Jangkauannya
Batas tugas tim ini perlu dipahami supaya kinerjanya tidak disalahartikan. Yang ditangani drainase kota, bukan luapan sungai.
Pada 5 Juli 2025, hujan deras membuat bupati menetapkan status Siaga 1. Tiga kecamatan terdampak, dan penanganannya dipegang BPBD, bukan Tim Kendali Banjir.
Salah satu pemicunya luapan Sungai Bialo di Kecamatan Gantarang, jauh dari jaringan drainase dalam kota. Wilayah rawan bencana kabupaten dimuat terpisah dalam peta rawan longsor dan abrasi.
Dua hal belum pernah diumumkan: jumlah personel tim ini dan daftar perangkat daerah yang tergabung di dalamnya. ***
Rangkuman berita Bulukumba sepekan terakhir, lengkap dengan tanggal dan tautannya, ada di Rangkuman Berita Bulukumba Pekan Ini.
