Daerah  

Sumur Kering dan Asin, 70 KK di Luppung Bulukumba Dapat Air Bersih

redaksi
Hamparan pasir pantai basah saat air surut dengan perahu kayu dan tali tambat di bagian atas
Pantai di Bulukumba saat air surut (ilustrasi, bukan lokasi Dusun Luppung). Foto: AndiEnni / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Rubrik.co.id – Sebanyak 70 kepala keluarga di Dusun Luppung, Desa Manyampa, Kecamatan Ujung Loe, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, mengalami krisis air bersih akibat kemarau. Polres Bulukumba bersama Pemadam Kebakaran (Damkar) Bulukumba menyalurkan air bersih ke dusun pesisir itu pada Selasa pagi, 15 September 2026.

Penyaluran dipimpin Kasat Samapta Polres Bulukumba AKP Sabri bersama Kapolsek Ujung Loe AKP Arifuddin. Polres mengerahkan satu unit mobil water canon, sedangkan Damkar menurunkan satu unit mobil pemadam kebakaran, seperti dilaporkan Radar Selatan dan Tribun-Timur.

Petugas kemudian membantu warga mengisi air ke berbagai wadah penampungan yang tersedia di rumah masing-masing.

Sumur beton berbentuk bulat berisi air gelap dengan ikan-ikan kecil berwarna oranye
Ilustrasi sumur warga, foto dari Jombang, Jawa Timur, bukan di Bulukumba. Foto: Indonesiagood / Wikimedia Commons, CC BY 3.0

Sumur Mengering, Sisanya Terasa Asin

Krisis air di Luppung datang dari dua arah. Sebagian sumur warga sudah tidak berair, sementara sumur yang masih menyimpan air tidak bisa dimanfaatkan dengan baik karena airnya terasa asin. Kedua media mengaitkan kondisi itu dengan letak Dusun Luppung yang berada di kawasan dekat laut.

“Sejak kemarau air bersih yang warga konsumsi terasa asin,” kata seorang warga Manyampa kepada Tribun-Timur. Menurut warga tersebut, perubahan rasa air mulai dirasakan sejak kemarau pada Agustus lalu. Tribun-Timur menyebut jumlah warga terdampak sekitar 300 jiwa.

AKP Sabri menyebut penyaluran air itu sebagai bentuk kehadiran polisi di tengah warga. “Polisi itu harus hadir dan bermanfaat kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat membantu meringankan beban masyarakat yang mengalami krisis air akibat kemarau,” ujarnya, dikutip Radar Selatan.

Ujung Loe Sudah Berstatus Waspada

Ujung Loe bukan wilayah baru dalam peta kekeringan Bulukumba. Pada awal September 2026, BPBD Bulukumba menetapkan enam kecamatan berstatus waspada, termasuk Ujung Loe, serta Bontobahari berstatus siaga. Wilayah tersebut banyak berada di kawasan pesisir, dimuat Tribun-Timur.

Hingga 6 September 2026, BPBD dan Damkar Bulukumba telah menyalurkan 70.000 liter air bersih kepada 127 kepala keluarga atau 441 jiwa di Kecamatan Gantarang, Ujung Bulu, Ujung Loe, dan Bontotiro, menurut Tribun-Timur. BPBD menyiapkan satu mobil tangki, sedangkan Damkar mengerahkan empat mobil tangki.

Kemarau juga menekan sektor pertanian. Sebelumnya, Rubrik.co.id memberitakan 662 hektare areal pertanian di Bulukumba terdampak kekurangan air, sementara di Kabupaten Wajo kekeringan melanda 13 kecamatan.

Prakiraan cuaca belum menjanjikan hujan. Dalam rilis BMKG yang dimuat Tribun-Timur, Sulawesi Selatan disebut berpotensi menghadapi defisit hujan hingga akhir 2026, dan Bulukumba termasuk 12 kabupaten dan kota yang diminta mewaspadai angin kencang pada 15–21 September 2026.