Rubrik.co.id – Seekor buaya yang diperkirakan sepanjang tiga meter muncul di kawasan Kolam Labuh Bentenge, Pantai Merpati, Kecamatan Ujung Bulu, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, pada Minggu sore, 13 September 2026. Sepekan kemudian, Dinas Perikanan Bulukumba menyatakan kemunculan satwa itu masih dapat dijelaskan secara ekologis dan belum cukup menjadi dasar untuk menyimpulkan adanya kerusakan habitat.
Kemunculan buaya itu dilaporkan Tribun-Timur pada Senin, 14 September 2026. Menurut laporan itu, satwa tersebut terlihat sekitar pukul 16.00 Wita berenang dari bibir pantai menuju laut lepas dan sempat direkam warga serta seorang nelayan di atas perahu. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Bulukumba Andi Hasbullah meminta warga menjauhi lokasi.
“Untuk sementara jangan melakukan aktivitas di pantai dan segera melaporkan kepada pemerintah setempat dan BPBD ketika melihat buaya itu,” kata Andi Hasbullah kepada Tribun-Timur.

Muara Sungai Bialo Berjarak Satu Kilometer
Penjelasan teknis datang dari Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Bulukumba, Yusli Sandi, dalam laporan Radar Selatan pada Minggu, 20 September 2026. Ia menilai satwa itu berjenis buaya muara, Crocodylus porosus, dan posisi Kolam Labuh Bentenge hanya sekitar satu kilometer dari Muara Sungai Bialo.
“Buaya muara memang mempunyai kemampuan beradaptasi pada perairan payau bahkan laut, sehingga kemunculannya di kawasan pesisir bukan sesuatu yang luar biasa,” ujar Yusli.
Menurutnya, kemarau panjang juga dapat mengubah kondisi hidrologis muara. Berkurangnya debit air tawar membuat pengaruh air laut menguat, mengubah salinitas, lalu memengaruhi sebaran ikan, udang, dan kepiting yang menjadi mangsa.
Batu Gajah Breakwater Diduga Menarik Mangsa
Yusli menyoroti struktur pemecah gelombang Kolam Labuh yang tersusun dari batu gajah. Setelah terendam, celah antarbatu dapat menjadi tempat berlindung biota dasar dan menarik ikan yang lebih besar hingga predator.
“Secara ekologis bisa terbentuk rantai sederhana: batu menjadi substrat, kemudian ditumbuhi organisme, menjadi tempat berlindung ikan dan krustasea, lalu menarik predator,” katanya. Ia menegaskan hal itu masih hipotesis yang perlu diuji lewat pemantauan debit sungai, salinitas, pasang surut, serta kelimpahan ikan.
Kawasan yang sama sedang menjadi pusat pembangunan. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menyerahkan Rp8 miliar untuk masjid terapung di Pantai Merpati pada hari yang sama dengan kemunculan buaya tersebut. Dinas Perikanan Bulukumba juga sedang menurunkan apartemen ikan ke dasar laut untuk menambah rumah ikan bagi nelayan.
Tribun-Timur mencatat buaya pernah ditemukan di kawasan wisata Bira pada 2024 dan kemudian dibawa Balai Karantina ke Makassar. Sampai laporan Radar Selatan terbit, tidak ada keterangan resmi soal penangkapan buaya di Kolam Labuh Bentenge.
