BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Wilayah Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, dulu terbagi atas sejumlah kerajaan kecil, di antaranya Tiro, Bulukumpa, Gantarang, Kindang, dan Kajang. Per September 2026, jejak fisik kerajaan-kerajaan itu terdata dalam daftar 86 cagar budaya yang disusun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bulukumba untuk data 2024.
Daftar itu diterbitkan lewat Portal Open Data Bulukumba dan memuat nama objek, alamat, jenis cagar budaya, serta keterangan status. Dari 86 objek, 23 di antaranya berstatus ditetapkan lewat surat keputusan bupati, sedangkan 63 sisanya diberi keterangan dilestarikan atau dipelihara.

Kerajaan Apa Saja yang Pernah Ada di Bulukumba?
Nama kerajaan lama paling terdokumentasi adalah Kerajaan Tiro. Pemerintah Kabupaten Bulukumba menyebut Dato Tiro mendarat di Ujung Banyoro pada 1604, pada masa pemerintahan Launru Daeng Biasa di Kerajaan Tiro. Rincian peristiwa itu dimuat dalam halaman rujukan sejarah masuknya Islam di Bulukumba.
Nama kerajaan lain muncul langsung pada nama objek cagar budayanya. Daftar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan memuat Makam Raja-Raja dan Dewan Adat Kerajaan Bulukumpa di Bonto Langgiri, Ballasaraja, Kecamatan Bulukumpa, serta Kompleks Makam Raja Bulukumpa ri Balleanging di kecamatan yang sama. Di Kecamatan Gantarang tercatat Benteng Gantarang, Sao Raja Ponre, dan Sao Raja Sawere. Di Kecamatan Kindang ada Sao Raja Kindang, Rumah Arajang Kindang, Benteng Palioi, dan Makam Sombaya Palioi.
Pengaruh dua kerajaan besar Sulawesi Selatan juga tertinggal di daftar itu. Kompleks Makam Raja-Raja Gowa Ri Campagaya dicatat di Kampung Campaga, Kecamatan Kindang, sedangkan Makam Lapattawe Daeng Soreang Arung Kayu, yang dicatat sebagai raja Bone ke-IX, berada di Kecamatan Gantarang. Perebutan pengaruh Gowa dan Bone di kaki Gunung Lompo Battang itu juga menjadi latar mitologi asal nama Bulukumba, seperti diuraikan dalam halaman hari jadi Kabupaten Bulukumba.
Di Mana Jejaknya Masih Bisa Dilihat?
Objek-objek berikut dipilih dari daftar 2024 karena namanya secara eksplisit menyebut raja, istana, benteng, atau perangkat kerajaan.
| Nama cagar budaya | Lokasi | Jenis | Status |
|---|---|---|---|
| Makam Raja-Raja dan Dewan Adat Kerajaan Bulukumpa | Bonto Langgiri, Ballasaraja, Kecamatan Bulukumpa | Cagar Budaya | Dilestarikan/dipelihara |
| Kompleks Makam Raja Bulukumpa ri Balleanging | Kecamatan Bulukumpa | Cagar Budaya | Dilestarikan/dipelihara |
| Rumah Adat (Saorajae) Bola KambaraE | Tanete, Kecamatan Bulukumpa | Cagar Budaya | Dilestarikan/dipelihara |
| Benteng Gantarang | Kecamatan Gantarang | Cagar Budaya | Dilestarikan/dipelihara |
| Sao Raja Ponre | Ponre, Kecamatan Gantarang | Cagar Budaya | Dilestarikan/dipelihara |
| Sao Raja Sawere | Sawere, Kecamatan Gantarang | Cagar Budaya | Dilestarikan/dipelihara |
| Makam Lapattawe Daeng Soreang Arung Kayu, Raja Bone Ke-IX | Kecamatan Gantarang | Cagar Budaya | Dilestarikan/dipelihara |
| Kompleks Makam Karaeng Matinroe Ri Pungranga | Lingkungan Torolia, Desa Bialo, Kecamatan Gantarang | Situs Cagar Budaya | SK Bupati |
| Sao Raja Kindang | Bontosunggu, Kecamatan Kindang* | Cagar Budaya | Dilestarikan/dipelihara |
| Rumah Arajang Kindang | Kecamatan Kindang | Cagar Budaya | Dilestarikan/dipelihara |
| Benteng Palioi | Kecamatan Kindang | Cagar Budaya | Dilestarikan/dipelihara |
| Kompleks Makam Raja-Raja Gowa Ri Campagaya | Kampung Campaga, Kecamatan Kindang* | Cagar Budaya | Dilestarikan/dipelihara |
| Batu Pelantikan Possi Tana | Kampung Tabuakkang, Kelurahan Mattoanging, Kecamatan Kajang | Cagar Budaya | SK Bupati |
| Kompleks Makam Raja-Raja Lembang | Desa Lembang Lohe, Kecamatan Kajang | Cagar Budaya | Dilestarikan/dipelihara |
| Sao Raja | Pao, Kecamatan Ujung Bulu* | Cagar Budaya | Dilestarikan/dipelihara |
Sumber: berkas “Jumlah Cagar Budaya yang Terdata di Kabupaten Bulukumba Tahun 2024”, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bulukumba, diunduh Rubrik.co.id dari Portal Open Data Bulukumba pada 25 September 2026. Penulisan nama dan alamat mengikuti berkas aslinya. Berkas itu tidak mencantumkan nomor dan tanggal surat keputusan bupati, sehingga status yang dimuat di tabel adalah keterangan apa adanya dari kolom sumber, bukan nomor penetapan.
*Tiga alamat bertanda bintang memakai nama yang tidak ada dalam daftar desa dan kelurahan resmi BPS untuk kecamatan yang disebut. Kindang terdiri atas 13 desa dan kelurahan, dan tidak satu pun bernama Campaga maupun Bontosunggu; Bonto Sunggu justru desa di Kecamatan Gantarang. Ujung Bulu terdiri atas sembilan kelurahan, tanpa nama Pao. Karena berkas dinas tidak menyebut dusun, lingkungan, atau desa induknya, ketiga nama itu dimuat apa adanya sebagai nama kampung, dan kecamatannya mengikuti berkas dinas. Nama Ponre dan Sawere di Kecamatan Gantarang juga bukan nama desa, tetapi Ponre tercatat sebagai ibu kota kecamatan dalam tabel BPS.
Kecamatan Mana yang Paling Banyak Menyimpan Jejaknya?
Sebaran 86 objek itu tidak merata. Kecamatan Kajang mencatat 25 objek, terbanyak di kabupaten, disusul Bulukumpa 16 objek, Gantarang 10, Kindang 9, Bonto Bahari 8, dan Ujung Bulu 7. Bontotiro dan Herlang masing-masing 4 objek, Ujung Loe 2, dan Rilau Ale 1 objek.
Konsentrasi di Kajang sejalan dengan keberadaan kawasan adat yang masih hidup di kecamatan itu, yang diuraikan dalam halaman Ammatoa Kajang dan profil Kecamatan Kajang. Daftar itu juga memuat objek yang tidak berkaitan dengan kerajaan, seperti Eks Kantor Polres Bulukumba, Eks Sekolah Cina, dan sebuah lokomotif di Jawi-Jawi, Kecamatan Bulukumpa.
Satu catatan penting: daftar tersebut adalah data yang terkumpul di dinas, bukan pernyataan lengkap tentang berapa kerajaan yang pernah berdiri di Bulukumba. Nama kerajaan yang tidak meninggalkan objek terdata tidak akan muncul di sana. Rubrik.co.id memakai daftar itu sebagai titik masuk, bukan sebagai daftar kerajaan.
