Rubrik.co.id – Petani Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, memprotes pembagian air irigasi dari Bendung Benteng yang mereka nilai lebih banyak dialirkan ke Pinrang bagian selatan, sementara sawah mereka kering sekitar dua bulan. Tribun-Timur memberitakan aksi di Kantor Dinas PSDA-BK dan DPRD Pinrang pada Senin, 14 September 2026, sedangkan detikSulsel melaporkan unjuk rasa petani Duampanua di DPRD Pinrang pada Rabu, 16 September 2026.
“Kami sudah 2 bulan kekeringan, air tidak sampai ke sawah,” ujar petani bernama Lapris kepada wartawan, dikutip detikSulsel.
Lapris menyebut ratusan hektare sawah terdampak dan banyak padi mati kekeringan. Petani meminta pemerintah membagi air secara merata antara wilayah selatan dan utara Pinrang.

“Kami merasa dianaktirikan karena air yang ada di Bendungan Benteng banyak diarahkan ke Pinrang selatan, sementara di Pinrang utara sama sekali tidak ada. Jadi kami di Duampanua ini dianaktirikan,” kata Lapris kepada detikSulsel.
Debit Bendung Benteng Merosot
Kepala Dinas PSDA-BK Pinrang Bachrum Syah mengatakan kepada detikSulsel bahwa krisis air dipicu kondisi iklim. Menurut dia, debit di Bendung Benteng kini tinggal sekitar 33 meter kubik per detik, jauh di bawah kondisi biasanya yang bisa mencapai 120 meter kubik per detik.
Bachrum menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan pengelola bendung agar pintu yang mengarah ke saluran induk Pekkabata di Duampanua dibuka. Ia mengakui langkah itu akan mengubah pembagian air ke saluran lain.
Pada aksi Senin, massa ditemui Bachrum Syah dan Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Andi Sinapati Rudy, lalu Ketua Komisi II DPRD Pinrang Amri Manangkasi, menurut Tribun-Timur. Massa juga membakar ban dan berorasi dari atas truk.
“Kami menuntut hak, agar pintu irigasi di Kecamatan Duampanua dapat dibuka. Duampanua jangan dianaktirikan,” kata seorang orator dalam aksi itu, dikutip Tribun-Timur.
150 Hektare di Passolengang Terdampak
Tribun-Timur mencatat wilayah Pinrang bagian utara mencakup Kecamatan Duampanua, Lembang, dan Batulappa. Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang mencatat 150 hektare sawah di Daerah Irigasi Passolengang, Desa Buttusawe, Duampanua, terdampak kekeringan dari total areal layanan 610 hektare. Pada Juli 2026, pemerintah juga telah meninjau titik kekeringan di Kelurahan Tadokkong di Lembang, Desa Buttusawe, dan Desa Salipolo di Kecamatan Cempa.
Kekeringan juga melanda daerah lain di Sulsel. Di Wajo, BPBD mencatat 13 kecamatan dilanda kekeringan, sementara di Bulukumba 662 hektare lahan pertanian terdampak kemarau.
