BULUKUMBA, Rubrik.co.id – Hari jadi Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, jatuh setiap 4 Februari. Tanggal 4 Februari 1960 ditetapkan lewat Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 1994 tentang Hari Jadi Kabupaten Bulukumba, sehingga peringatan pada 2026 menjadi yang ke-66. Julukan daerah ini, Butta Panrita Lopi, berarti daerah bermukimnya orang yang ahli membuat perahu.
Keterangan itu tercantum di halaman Sejarah Bulukumba dan Arti Lambang di situs resmi Pemerintah Kabupaten Bulukumba, yang diakses Rubrik.co.id pada September 2026. Menurut Pemkab, tanggal hari jadi diputuskan setelah seminar sehari pada 28 Maret 1994 dengan narasumber ahli sejarah dan budaya Prof. Dr. H. Ahmad Mattulada.
| Tanggal | Peristiwa | Sumber |
|---|---|---|
| 1959 | Terbit Undang-Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Sulawesi, awal peresmian Bulukumba sebagai nama kabupaten | Pemkab Bulukumba |
| 4 Februari 1960 | DPRD menetapkan Lambang Daerah; Bulukumba resmi menjadi daerah tingkat II secara yuridis formal | Pemkab Bulukumba |
| 12 Februari 1960 | Pelantikan bupati pertama, Andi Patarai | Pemkab Bulukumba |
| 28 Maret 1994 | Seminar sehari penentuan hari jadi, narasumber Prof. Dr. H. Ahmad Mattulada | Pemkab Bulukumba |
| 1994 | Perda Nomor 13 Tahun 1994 menetapkan 4 Februari 1960 sebagai hari jadi | Pemkab Bulukumba |
| September 1994–1996 | Slogan “Bulukumba Berlayar” mulai disosialisasikan pada September 1994 dan disepakati penggunaannya pada 1996 | Pemkab Bulukumba |
| 4 Februari 2026 | Peringatan Hari Jadi ke-66 dalam Rapat Paripurna DPRD Bulukumba, bertema “Pembangunan Berkarakter dan Berkelanjutan” | Kemenag Sulsel |
Sumber: halaman Sejarah Bulukumba dan Arti Lambang, bulukumbakab.go.id (diakses 22 September 2026); Kemenag Sulsel, 4 Februari 2026. Naskah Perda Nomor 13 Tahun 1994 belum tersedia di basis data JDIH BPK per 22 September 2026, sehingga isinya dirujuk dari keterangan Pemkab.
Asal Nama Bulukumba
Pemkab Bulukumba menyebut asal nama daerah ini sebagai mitologi yang muncul pada abad ke-17, saat terjadi perang saudara antara Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone. Utusan kedua raja bertemu di pesisir pantai bernama Tanahkongkong untuk berunding secara damai dan menetapkan batas wilayah pengaruh masing-masing.
Sengketanya berpusat pada Bangkeng Buki, yang secara harfiah berarti kaki bukit, yakni barisan lereng dari Gunung Lompo Battang. Gowa mengklaimnya sebagai batas kekuasaan dari Kindang sampai ke timur, sedangkan Bone mempertahankannya dari barat sampai ke selatan.
Dari peristiwa itu lahir kalimat Bugis “Bulukumupa”, gabungan “Bulu’ku” dan “Mupa”, yang menurut Pemkab berarti “masih gunung milik saya” atau “tetap gunung milik saya”. Pada dialek tertentu, bunyinya kemudian bergeser menjadi Bulukumba.

Makna Butta Panrita Lopi dan Lambang Daerah
Julukan Butta Panrita Lopi melekat pada perahu pinisi, yang oleh Pemkab disebut salah satu mahakarya dan ciri khas masyarakat Bulukumba. Perahu itu juga menjadi unsur utama lambang daerah yang diciptakan oleh Pertiwi Yusuf.
Menurut halaman Arti Lambang, perisai segi lima melambangkan keteguhan mempertahankan Pancasila. Sebanyak 17 bulir padi, 8 helai daun jagung, 4 kelopak, dan 5 bunga buah jagung menandai tanggal kemerdekaan, 17 Agustus 1945. Padi dan jagung sendiri melambangkan mata pencaharian utama sekaligus makanan pokok warga.
Tujuh layar pinisi menggambarkan jumlah kecamatan saat logo dibuat. Kini Bulukumba memiliki 10 kecamatan, tetapi aturan lambangnya disebut belum direvisi. Aksara lontara di sisi perahu berbunyi “Mali’ Siparappe, Tallang Sipahua”, perpaduan dua dialek Bugis dan Makassar yang melambangkan persatuan dua suku besar di Bulukumba. Warna dasar biru menandai Bulukumba sebagai daerah maritim.
Ada satu ketidaksesuaian di situs Pemkab sendiri. Halaman Sejarah menyebut dasar hukum lambang adalah Perda Nomor 5 Tahun 1978 tentang Lambang Daerah, sedangkan halaman Arti Lambang menyebut Perda Nomor 13 Tahun 1987. Rubrik.co.id belum menemukan naskah kedua perda itu di JDIH untuk memastikan nomor yang benar.
Peringatan Hari Jadi ke-66
Hari Jadi ke-66 diperingati dalam Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bulukumba pada Rabu, 4 Februari 2026. Wakil Bupati Andi Edy Manaf, dilansir Radar Selatan, menyebut peringatan itu sebagai momentum memperkuat persaudaraan antarwarga.
Identitas maritim yang dibawa julukan Butta Panrita Lopi juga dirayakan lewat agenda tahunan. Pemkab menjadwalkan Festival Pinisi XVI pada 15–17 Oktober 2026. Edisi sebelumnya dibuka dengan ritual Annyorong Lopi di Pantai Mandala Ria, Kecamatan Bonto Bahari, pada 23 Oktober 2025, dan menghadirkan kapal pinisi sebagai kafe terapung di Pantai Merpati.
