Daerah  

Antrean BBM di SPBU Bulukumba Mulai Terurai

Redaksi Rubrik
Empat selang pengisian bahan bakar berwarna merah, biru, putih, dan abu-abu tergantung di mesin dispenser SPBU berlabel Pertamax Turbo, Pertamax, Pertalite, dan Solar
Ilustrasi selang pengisian BBM di sebuah SPBU Pertamina, bukan SPBU di Bulukumba. Foto: Henri Aja / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Rubrik.co.id – Antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, mulai terurai pada Senin, 21 September 2026, setelah hampir sebulan kendaraan mengular hingga ratusan meter ke badan jalan. Sebagian SPBU menerapkan pembelian bahan bakar minyak (BBM) dengan sistem ganjil-genap, sementara yang lain memilih membatasi volume pembelian.

Kondisi itu dilaporkan Radar Selatan dan Tribun-Timur pada hari yang sama. Radar Selatan mencatat antrean tidak lagi terlihat di SPBU Caile dan SPBU Labuang Korong. Tribun-Timur menyebut kondisi serupa di SPBU Katangka, Kecamatan Rilau Ale, dan SPBU Caile di kawasan ibu kota kabupaten.

“Setelah kami berlakukan pembelian BBM dengan sistem ganjil genap, maka antrean kendaraan tidak terlalu panjang dan pengisian lancar,” kata Manajer SPBU Katangka Andi Syukur kepada Tribun-Timur.

Halaman SPBU Pertamina yang lengang tanpa antrean kendaraan, dengan tiang papan harga merah di kiri dan kanopi merah putih di latar belakang
Ilustrasi SPBU Pertamina yang lengang, dipotret di Rowokele, Kebumen, bukan SPBU di Bulukumba. Foto: DARMAS BS 9 / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Cara Pembatasan Berbeda di Tiap SPBU

Tidak semua SPBU memakai cara yang sama. Pengelola SPBU Labuang Korong, Andri, mengatakan kepada Radar Selatan bahwa pihaknya tidak menerapkan ganjil-genap, melainkan membatasi pembelian Pertalite paling banyak Rp300 ribu untuk kendaraan roda empat dan Rp50 ribu untuk roda dua. Seiring antrean yang mereda, pembatasan itu tidak lagi diberlakukan.

“Sudah tidak ada antrean panjang. Pembelian kembali normal seperti biasanya,” kata Andri.

Tribun-Timur mencatat sebagian SPBU lain membatasi pembelian mobil maksimal 50 liter dan sepeda motor maksimal 5 liter, sedangkan SPBU Bicari memilih tidak menerapkan ganjil-genap karena dinilai dapat menyulitkan pengendara. Dari 16 SPBU di Bulukumba, sejumlah lokasi sebelumnya padat setiap kali pasokan tiba, dan puluhan sopir memilih bermalam di SPBU agar tidak kehilangan giliran.

“Alhamdulillah hari ini sudah tidak mengantri lagi, kalau kemarin-kemarin berjam-jam kita antre baru dapat,” ujar Salehuddin, seorang pembeli, kepada Radar Selatan.

Sempat Dibahas di DPRD

Antrean panjang itu sebelumnya dibahas dalam rapat dengar pendapat di DPRD Bulukumba pada Kamis, 17 September 2026. Menurut Radar Selatan, Wakil Ketua I DPRD Bulukumba Fahidin HDK meminta para manajer SPBU menjelaskan kondisi pasokan, termasuk kemungkinan pengurangan kuota BBM bersubsidi. Dalam rapat itu, seorang manajer SPBU menyebut konsumsi BBM meningkat antara lain karena warga desa memakai mesin pompa air untuk mengairi lahan selama kemarau.

Kaitan kemarau dan BBM itu sejalan dengan liputan Rubrik.co.id sebelumnya tentang petani Bulukumba yang terjepit kemarau dan antrean BBM, serta petani yang membawa mesin panen ke DPRD setelah pembatasan pembelian diberlakukan pada pertengahan September 2026.

Kedua laporan pada 21 September 2026 belum memuat keterangan Pertamina soal jumlah pasokan ke Bulukumba. Karena itu, belum dapat dipastikan apakah antrean yang kembali normal akan bertahan dalam beberapa hari ke depan.