Rubrik.co.id – Produksi padi Sulawesi Selatan sepanjang Januari-September 2026 tercatat 4.530.345,33 ton gabah kering giling, naik 42.624,65 ton atau 0,95 persen dibanding periode yang sama pada 2025, berdasarkan data Kerangka Sampel Area Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHBun) Sulsel yang dilaporkan Rakyat Sulsel pada Senin, 21 September 2026. Pada saat yang sama, tanaman padi puso dilaporkan di sejumlah kabupaten akibat kemarau.
Menurut data yang sama, luas panen mencapai 873.241,16 hektare, bertambah 3.588,61 hektare atau 0,41 persen. Produksi beras tercatat 2.599.676,84 ton, naik 24.459,63 ton. Bone, Wajo, Sidrap, dan Pinrang masih menjadi sentra utama.
Angka beras itu lebih rendah dari yang disampaikan Plt Kepala Dinas TPHBun Sulsel Bustanul Arifin pada Senin, 7 September 2026, yakni 2.627.505 ton dengan kenaikan 52.288 ton, seperti dikutip IDN Times Sulsel. Kedua laporan memakai angka pembanding 2025 yang sama, yakni 2.575.217 ton. Penyebab selisih itu belum dijelaskan.

Puso di Barru dan Bulukumba
Harian Fajar melaporkan sedikitnya 23 hektare padi puso di Labulo Bulo, Dusun Congko, Desa Siddo, Kecamatan Soppeng Riaja, Kabupaten Barru. Tanaman yang diproyeksikan segera dipanen justru berubah cokelat lalu mengering karena pasokan air terbatas. Lahan dikategorikan puso bila tingkat kerusakannya melebihi 75 persen.
Di Bulukumba, Dinas Pertanian mencatat 662,17 hektare lahan terdampak kekeringan, 40,17 hektare di antaranya sudah puso. Angka 662 hektare itu sejalan dengan data yang dilaporkan RUBRIK pada 14 September 2026. Menurut Harian Fajar, sebagian padi yang gagal panen di Kecamatan Bulukumpa dijadikan pakan sapi.
Di Pinrang, luas lahan yang terancam kekeringan disebut mencapai 4.726 hektare di Kecamatan Duampanua dan 2.857 hektare di Kecamatan Lembang. Petani Duampanua sebelumnya memprotes pembagian air irigasi setelah sawah mereka kering sekitar dua bulan.
Bulog Kebut Serapan Sebelum Panen Raya Usai
Pemimpin Perum Bulog Kanwil Sulselbar Fahrurozi mengatakan penyerapan gabah setara beras di Sulsel sudah mencapai 687.000 ton atau 97,7 persen dari target 697.000 ton. “Setelah panen raya berakhir sekitar Oktober, produksi beras diperkirakan tidak sebanyak periode sebelumnya pada November hingga Februari,” ujarnya kepada Rakyat Sulsel.
Stok itu, menurut Fahrurozi, disiapkan pula untuk penyaluran bantuan pangan awal tahun depan. Pada 7 September 2026, Bustanul menyebut El Nino tidak berdampak signifikan terhadap produksi dan memperkirakan puncak kemarau terjadi pada September 2026.
